Brak!Pagi itu, Satria yang duduk di atas ranjang dibuat terkejut oleh bantingan keras pintu ruang rawatnya.Pemuda itu spontan menatap ke arah sumber suara. Dilihatnya, Rain datang dengan rantang berisi bekal makanan di tangannya.Wajah wanita hamil itu ditekuk dan terlihat datar. Dengan langkah santai, ia mendekati ranjang pasien, menarik sebuah kursi, lalu mendaratkan bokongnya di sana secara kasar."Sayang, aku mi—""Bisa diem gak?!" bentak Rain dengan sepasang mata melotot, memotong cepat kalimat penjelasan yang hendak diucapkan Satria.Diperintahkan untuk diam, Satria pun menganggukkan kepalanya sambil memajukan bibirnya. Tanpa sepatah kata, ia beringsut dan memandangi wajah Rain yang terlihat sembab.Rain yang duduk di kursi samping ranjang membuka rantang bekal yang dibawanya."Buka mulutnya!" titah Rain dengan suara pelan, tetapi bernada datar dan dingin.Satria menggelengkan kepalanya, takut diracun oleh calon istrinya yang sedang marah. Ia tak mau mati sekarang, cita-citany
Baca selengkapnya