"Eum, egh, uh, Sa-Satria, aku nggak nyangka kalau kamu sepengalaman ini. Cepat, cepat lakukan itu... buat saya keenakan." Suara deru napas dan lenguhan beradu. Batin Satria, rasanya benar-benar nikmat. Bibir Rain tak hanya lembut, tetapi juga manis dan membuatnya tak ingin menyudahi pagutannya. Namun, ia yang kehabisan oksigen mau tak mau melepaskan pagutannya. Begitu pula dengan Rain yang merem melek keenakan. "Ah, Satria...." Rain mendesah pelan, tatapan matanya terlihat sedikit sayu. Dengan sekali tarikan napas, Satria kembali memagut bibir Rain. Bahkan, kali ini ciumannya agak sedikit kasar, tidak seperti sebelumnya. "Ugh, Satria, pelan-pelan," ucap Rain. Tangannya mendorong dada Satria, meminta pemuda itu untuk melakukannya dengan pelan dan lembut. Satria yang sudah keburu nafsu, hanya merespon perkataan Rain dengan anggukkan kepala. Lalu, kembali mengulangi pagutannya. Kini bibir Rain sudah seperti permen karet bagi Satria, manis, lembut, kenyal dan membua
Last Updated : 2026-03-25 Read more