Mikael mengangguk dan mengatakan dirinya mulai mempertimbangkan sepeda motor yang bisa digunakan untuk urusan restoran sekaligus perjalanan keluarga ke tempat yang tidak terlalu jauh. Rencana itu belum sampai pada merek, harga, atau tempat membeli, karena yang paling penting bagi Mikael malam tersebut adalah mengembalikan kendali atas percakapan. “Kalau punya motor sendiri, kita tidak perlu menunggu siapa pun,” katanya. “Pergi kapan perlu, pulang kapan selesai, dan tidak harus meminta tempat.” Sarita semakin bersemangat mendengar kemungkinan tersebut, lalu menambahkan bahwa kendaraan milik sendiri terasa lebih pantas bagi keluarga yang menjalankan usaha di kota. Hendra Lin yang masih berdiri di depan rumah tidak langsung menyambut gagasan itu, sebab dirinya bisa melihat keputusan tersebut muncul terlalu dekat dengan rasa malu beberapa menit sebelumnya. &ld
Read more