Siang menghantam mereka dari atas. Keringat mengalir ke mata, lumpur mengering di betis, telapak tangan perih, dan pundak seperti ditusuk kecil-kecil setiap kali mereka mengangkat akar yang belum dipotong. Darman beberapa kali mengumpat karena kulit telapak tangannya terkelupas. Leo dua kali harus berhenti lebih lama untuk meneguk air dan mengatur napas, rusuknya masih ingat pukulan dua hari lalu. Tetapi pekerjaan terus jalan. Potong, remas, saring, tuang. Potong, remas, saring, tuang. Ember pertama terisi setengah, lalu penuh. Ember kedua menyusul. Menjelang sore, dua ember besar cairan putih berdiri di atas tanah yang lebih tinggi. Airnya masih bergerak pelan kalau disentuh, tapi warnanya sudah cukup membuat perut orang waras langsung menghitung. Darman berdiri dengan kedua tangan di pinggang, napasnya berat. "Empat rumpun. Dua ember. Kalau ini benar-benar jadi uang, aku bakal hormat sama lumpur."
Baca selengkapnya