Angin pagi berembus perlahan, menggoyangkan dedaunan pohon mahoni di taman rumah sakit. Namun, kesejukan itu sama sekali tidak mampu mengusir rasa dingin yang tiba-tiba menjalar di sekujur tubuh Estela.Setiap goresan tinta hitam yang telah berubah kelabu itu terasa seperti bisikan langsung dari alam kubur."Untuk putri kecilku tersayang, Estela...Saat kamu membaca surat ini, mungkin Ibu sudah tidak lagi berada di dunia ini untuk memelukmu. Ibu menulis ini dengan sisa-sisa kekuatan yang Ibu miliki di atas ranjang rumah sakit, di tengah rasa sakit yang tak tertahankan. Ibu tahu, Ibu tidak punya banyak waktu lagi.Estela, maafkan Ibu karena harus menyimpan rahasia ini begitu lama darimu. Ibu dan Ayahmu terpaksa melakukannya demi satu hal yang paling berharga di dunia ini, keselamatan nyawamu."Estela menahan napasnya sejenak. Jantungnya berdebar kencang. Ia melirik ke arah ayahnya, Hermawan, yang duduk beberapa meter di kejauhan. Hermawan tampak sedang berpaling, memandang kosong
Baca selengkapnya