Di dalam ruangan yang sunyi itu, Estela terduduk di atas lantai beton yang dingin, menyembunyikan wajahnya di dada Adrian. Ia menangis tanpa suara, memikirkan bagaimana nasib putranya, Arthur Junior, di rumah tanpa perlindungannya.Adrian berlutut di samping kembarannya, memeluk tubuh Estela dengan sangat erat. Matanya menatap tajam ke arah lembaran kertas kosong di atas meja gambar rahasia itu. Di dalam hatinya yang biasanya dipenuhi oleh kedamaian, kini mulai tumbuh sebuah tekad yang sangat keras. Mereka mungkin telah diculik secara paksa, dan mereka mungkin terpaksa harus menggambar untuk orang-orang kejam ini demi melindungi Arthur. Namun, Adrian berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia tidak akan membiarkan proyek ini berjalan sesuai dengan keinginan Jenderal Wirawan. Bersama Estela, kembarannya, mereka harus mencari cara untuk melawan dari dalam penjara ini, menggunakan satu-satunya senjata yang mereka miliki, yaitu kejeniusan arsitektur mereka sendi
Ler mais