"Ayo ke rumahmu dulu," kata Radit.Aurel tidak berani melawan dan membawa mereka ke rumahnya.Rumah Bambang tidak terlalu besar, kurang dari 100 meter persegi, dan sangat berantakan. Hanya kamar tidur Aurel yang terasa nyaman."Mandi dulu, lalu ganti seragam sekolah," kata Radit dengan nada datar.Aurel menangis tersedu-sedu, menjatuhkan diri ke lantai dan meratap, "Apa sebenarnya yang kamu inginkan? Kumohon beri tahu aku! Aku takut ... huhuhu ...."Mata Radit tidak menunjukkan belas kasihan sama sekali, hanya ketidakpedulian. "Kamu membangkang lagi."Detik berikutnya.Luna melangkah maju, mencengkeram rambut gadis itu, mengangkatnya, dan menampar wajahnya dengan keras dua kali."Nggak. Aku nggak akan membangkang lagi ...."Kepala Aurel berdenyut-denyut, pipinya sakit hingga mati rasa, matanya sudah kehilangan kilaunya, dan dia berjalan linglung ke kamar mandi.Luna berkata, "Apa kita terlalu kejam?"Radit mendorong kursi rodanya ke jendela, menatap pohon kecil yang berdiri di pinggir
Read more