Perjalanan begitu hening dan menyakitkan. Semakin dekat ke tanah utara, makin sedikit yang bisa dilihat. Tanah dan tanaman meranggas sisa-sisa musim gugur, semua tertutup salju. Dalam balutan mantel bulu tebal, Tang Rui terpaksa bergerak lebih lambat. Kuda mereka lelah dan lapar. "Wangye, bagaimana kalau kita singgah dulu di rumah kosong itu? Biar kuda istirahat juga," usul Xifeng. "Baiklah."Setibanya di rumah kosong, Tang Rui melompat turun dari punggung kuda. Saat Xifeng dan prajurit lain sibuk mencari rumput dan sumber air, dia mulai menyalakan api unggun. Suasana sepi ditambah udara dingin membuatnya merindukan kehangatan sang istri. Tang Rui menggigit ranting kayu yang kebetulan terletak di dekat tumpukan salju. Matanya memandang ke gunung Utara yang memisahkan mereka dengan suku Xiongnu. Setelah melewati gundukan batu itu, tak ada lagi kemanusiaan. Hanya hasrat untuk mengalahkan lawan. Pada saat ini, Xifeng, Qilin, dan prajurit lain kembali. "Wangye! Kita beruntung. Ad
Read more