“Pendarahan lagi?” Kening Prana mengernyit dalam. “Dari kapan pendarahannya? Bukannya semalam udah gak pendarahan?”“Tadi pagi pas bangun, Pak dokter,” jawab lagi Mbok Yah.Prana mengalihkan pandangannya pada Shanum. “Perutmu sakit?”“Bangun tidur berasa kencang.”“Suster, tolong cek flek pendarahannya sekarang,” perintah Prana tegas namun tetap berusaha mengontrol intonasi suaranya.Salah seorang perawat segera melakukan pemeriksaan singkat, perawat itu mendongak menatap Prana. “Memang masih terjadi pendarahan aktif, Dok. Warnanya merah segar, tapi udah gak banyak.”Shanum yang menyaksikan kesibukan mendadak itu mulai merasa cemas. Tangannya kembali meremas ujung selimut erat-erat. “Gak apa-apa, kan?”Prana berusaha tak menunjukan kepanikannya. Terlebih, ini adalah momen pertama kalinya Shanum akan melihat kondisi janinnya sendiri secara visual lewat USG. Prana tak ingin ketakutan merusak mental Shanum yang baru saja mencoba pulih.“Kita periksa dulu. Kamu tenang ya, jangan panik,”
Baca selengkapnya