“Ketubanku... pecah ya, Mas?”Suara Shanum terdengar sangat pelan, bergetar di ambang isakan.Prana langsung merendahkan tubuhnya, meraih kedua bahu istrinya dengan sigap. Sikapnya berbenturan keras dengan kecemasan luar biasa sebagai seorang suami, tetapi ia tahu ia tidak boleh kehilangan kendali.“Aku di sini, Sayang. Jangan khawatir,” ucap Prana lembut tapi tetap tegas.Shanum menatap wajah suaminya, air matanya tumpah membasahi pipi.Prana melirik genangan cairan bening yang terus merembes ke lantai restoran, lalu pandangannya turun pada garis kemerahan yang mencemari dress Shanum. Rahang Prana mengeras seketika.“Iya, ketubannya pecah,” ujar Prana setenang mungkin. “Ada sedikit perdarahan.”Ralin yang berdiri beberapa langkah dari mereka langsung merapat dengan wajah pucat.“Prana, gimana keadaan Shanum?”Prana tidak membuang waktu untuk menjawab pertanyaan itu. Ia langsung mendongak menatap ibunya. “Ma, tolong pegang Shanum sebentar. Aku mau telepon rumah sakit dulu.”Ralin lang
Read more