“Sini, Sayang.”Prana menepuk matras di sebelah kirinya. Pria itu merebahkan tubuhnya di atas kasur empuk, sementara Shanum berdiri sejenak di dekat meja rias untuk melepas ikatan rambutnya.Shanum berjalan mendekat, lalu merebahkan diri di samping suaminya. Prana langsung menyambut tubuh istrinya, membawa Shanum ke dalam dekapan hangat dengan satu tangan menjadi bantal.“Tadi sore kaget banget pas Ayah datang tiba-tiba,” ucap Shanum membuka obrolan, kepalanya bersandar pas di dada bidang Prana.Prana mengecup puncak kepala istrinya sekilas. “Aku juga kaget. Tapi syukurlah semuanya berjalan baik. Mama benar-benar di luar dugaan kita.”“Iya, Mama hebat banget bisa berdarmai sama masa lalu,” balas Shanum tersenyum tipis. “Aku jadi ngerasa beban di pundak aku hilang separuh.”“Sekarang tugas kamu cuma satu,” bisik Prana sambil turunkan tangan kanannya mengusap perut Shanum yang terbalut piama tidur. “Fokus sama kesehatan kamu dan bayi kita.”Baru saja Prana menyelesaikan kalimatnya, tela
続きを読む