LOGIN“Ada keperluan apa datang ke sini?” tanya Prana dingin, terdengar kaku dan penuh penolakan.Bobby menarik napas dalam-dalam, menghadapi sorot mata tajam anak kandungnya tanpa gentar.“Papa datang buat jenguk kalian berdua,” jawab Bobby tenang. “Papa tahu alamat rumah ini dari Mama kamu.”Mendengar pengakuan itu, kedua bola mata Prana membelalak lebar. Tubuhnya menegang kaku di tempat.“Dari Mama?” ulang Prana dengan nada tak percaya. “Gak mungkin Mama kasih alamat ini.”“Kami gak sengaja ketemu. Mamamu mengajak Ayah bicara sebentar.”Shanum yang berdiri tepat di balik punggung suaminya ikut terkejut bukan main. Ia mencengkeram ujung kemeja Prana erat-erat. Jujur ia takut suaminya akan emosi.Ralin yang selama ini dikenal paling membenci masa lalu dan keluarga Bobby, justru berinisiatif membuka komunikasi dengan mantan suaminya sendiri.Melihat kebingungan dan ketegangan di wajah ayah dan anak di depannya, Shanum memberanikan diri melangkah keluar dari balik perlindungan tubuh suaminya
“Mama yakin mau pulang ke Bali hari ini?”Prana menarik reseleting koper setelah Ralin merapikan pakaian terakhir ke dalam koper berukuran sedang di kamar tamu.Ralin mendongak menatap anak laki-lakinya. “Iya, Mama harus pulang. Usaha di Bali sudah lama gak Mama pantau langsung. Lagian Shanum sekarang udah gak mual-mual parah lagi, jadi Mama udah tenang ninggalin kalian.”Shanum yang duduk di tepi tempat tidur langsung cemberut. Tangannya meraih lengan Ralin, merapat manja seperti anak kecil yang tak mau depet itinggal ibunya.“Memangnya gak bisa nyuruh orang lain saja buat ngurus usahanya, Ma? Kenapa harus Mama yang turun tangan?”Ralin tersenyum geli melihat perubahan sikap menantunya yang semakin hari semakin manja sejak kehamilannya memasuki bulan-bulan stabil.“Bisa saja, Sayang. Tapi tetap saja Mama harus cek langsung ke sana. Nanti kan Mama bisa ke Jakarta lagi. Jakarta-Bali kan cuma sejam naik pesawat, gak nyebrang benua.”Tangan Ralin yang bebas terulur, mengusap lembut perut
“Ngapain ke sini?” tanya Prana datar melewati pria yang menghadangnya, dan menghentikan langkahnya keluar dari pintu kaca kafe.Pria berjas hitam itu langsung mempercepat langkahnya, mensejajarkan diri dengan Prana di trotoar.“Tadi aku ke rumah sakit nyari kamu, kata perawat kamu sudah pulang. Pas mau putar balik mobil, aku lihat kamu dari seberang lagi duduk berdua sama Hania di kafe.”Prana melirik sekilas ke arah Hendra, sahabat sekaligus pengacara pribadinya yang juga menangani masalah hukum keluarga mereka dan Shanum.“Mau apa kesini?”“Ngapain kamu ketemuan sama mantan tunangan pas bini lagi bunting?” balas Hendra dengan nada menyelidik, menatap tajam ke arah Prana.“Cuma ngobrol biasa aja.”“Serius, Pran? Gak ada apa-apa kan? Istri kamu di rumah lagi hamil, jangan bikin masalah yang aneh-aneh,” tegur Hendra mengingatkan.“Gak ada apa-apa, apaan sih,” sungut Prana malas menanggapi kecurigaan sahabatnya.“Shanum tahu kamu ketemu Hania?”“Enggak tahu, buat apa dibahas. Gak usah k
Bab 368“Bisa kita bicara, Mas?”Prana yang hendak melangkah keluar lobi rumah sakit langsung menghentikan gerakannya. Jam praktiknya baru saja berakhir, dan berniat segera pulang.Ia menoleh dan mendapati Hania berdiri di dekatnya. Wajah mantan tunangannya itu terlihat sembab, matanya bengkak dengan sisa maskara yang luntur di sudut mata.Melihat kondisi Hania yang berantakan, rasa iba langsung muncul di dada Prana. Sebagai pria yang pernah mengenal wanita itu bertahun-tahun, Prana tetap menyayangi Hania. Tapi rasa sayang itu kini murni seperti rasa sayang seorang teman, bukan perasaan cinta romantis.“Di sini ramai, Han. Kalau mau bicara, di seberang saja,” jawab Prana lembut, menunjuk sebuah kafe kecil di seberang jalan rumah sakit yang menawarkan privasi lebih baik karena sepi pengunjung di jam-jam sibuk sore hari.Hania mengangguk cepat. Keduanya berjalan berdampingan dalam keheningan menuju kafe tersebut. Mereka memilih sudut paling pojok, dan memilih menu.Begitu pelayan yang m
“Katanya istri sama anak kamu gak terima Shanum, ya?” tanya Ralin to the point.Ralin menatap tajam Andata yang duduk di seberanganya, menautkan kedua tangannya di atas meja setelah kedatangannya sepuluh menit yang lalu disambut Shanum dan Prana.Shanum duduk di sebelah Prana, menatap ayahnya yang terlihat lelah mendengar omelan mertuanya. Sementara itu, Prana berdiri tepat di belakang kursi istrinya, sebelah tangannya bertumpu protektif di sandaran kursi.Sebagai teman satu angkatan semasa SMA dulu, Andata sangat tahu persis bagaimana tabiat Ralin yang blak-blakan, keras, dan tak suka basa-basi jika sudah menyangkut orang yang disayanginya.“Mereka masih terkejut, Lin...” Andata mencoba membela diri. “Mungkin perlu sedikit waktu buat menerima semuanya.”“Waktu?” Ralin mendengus keras, memotong ucapan Andata sambil melipat tangan di dada.“Anak kandung sendiri kamu terlantarkan bertahun-t
“Gimana arisan tadi? Aman kan? Mama gak bikin ulah, kan?”Prana baru masuk ke kamar, pulang dari klinik. Ia langsung mendaratkan kecupan hangat di puncak kepala Shanum.Shanum menyunggingkan senyuman tipis menyambut suaminya. Prana mendudukkan diri di sebelah Shanum. Meraih tangan istrinya, mengusap punggung tangan Shanum lembut.“Justru kebalikannya, Mas. Tadi seru banget,” jawab Shanum sambil terkekeh pelan mendengar nada bercanda suaminya. “Prana menaikkan sebelah alisnya, tertarik. “Seru gimana maksudnya?”“Tadi Tante Lastri sengaja nyindir aku di depan semua orang soal masa lalu aku sama Fadil,” cerita Shanum tanpa ragu. “Dia mancing-mancing biar aku malu.”Rahang Prana langsung mengeras seketika. Pria itu mengubah posisi duduknya, menatap istrinya tajam.“Terus? Dia ngomong apa sama kamu?”“Dia sengaja bilang ke semua orang kalau aku mantan istri Fadil yang katanya kasusnya heboh,” lanjut Shanum tenang.“Keterlaluan,” desis Prana geram. “Kamu diapain lagi sama dia? Kenapa gak l
Fadil melangkah lebar memasuki klinik baru milik Prana, tangannya mencengkeram pergelangan tangan Shanum, seperti menggiring tawanan menuju ruang interogasi. Shanum hanya bisa menunduk mengikuti langkah Fadil. Jantungnya bertalu hebat saat langkah mereka berhenti di depan pintu kamar yang kini tel
“Makan yang banyak, Pran. Anggap saja rumah sendiri,” ujar Fadil akrab, sembari menyuap nasi dengan lahap. “Gimana? Sudah nyaman di atas?” Meja makan malam itu terasa seperti panggung sandiwara yang menyesakkan bagi Shanum. Aroma harum nasi hangat kalah oleh aura dominasi Fadil dan intensitas tata
Shanum sudah berganti pakaian dengan daster katun sederhana yang tertutup hingga ke lutut, rambutnya sudah diikat rapi. Ia duduk di sisi sofa, berseberangan dengan Prana yang duduk tenang sambil sesekali melirik padanya. Fadil duduk disebelah Shanum, tampak sangat bersemangat. Kontras dengan dua
“Aah… aku udah gak tahan… Aahh Shanum…” Tidak sampai tiga menit, erangan itu adalah tanda berakhirnya segalanya. Tanpa pemanasan, tanpa kecupan, apalagi usaha untuk memuaskan istrinya. “Sudah, Mas?” tanya Shanum getir. Fadil mencapai pelepasannya yang ia butuhkan, menyisakan kekosongan bagi S







