“Mbak Ralin, memang mau apa sih perempuan itu datang lagi?”Lastri—ibu Hania—berucap di tengah santap siang, menyela denting sendok dan garpu yang beradu dengan piring porselen.Ralin hanya diam, mengunyah makanannya lambat-lambat tanpa berniat menanggapi. Lastri tampaknya memang tak butuh jawaban untuk terus memojokkan keadaan. Perempuan paruh baya itu meletakkan alat makannya.“Dulu ibunya ngerebut ayahnya Prana, sekarang anaknya ngerebut Prana dari Mbak Ralin,” ketus Lastri sambil menyilangkan tangan di atas meja. “Ternyata kalau cari pasangan tuh emang harus dilihat bibit, bebet, dan bobotnya, Mbak.”Hania, yang duduk di sebelah ibunya, langsung meletakkan sumpitnya dengan tenang.“Ma, udah deh. Gak usah dibahas lagi, gak enak sama Mama Ralin,” tegur Hania lembut, menampilkan gestur penuh pengertian.“Kenapa dilarang? Biar Mbak Ralin sadar kalau perempuan itu emang gak tahu malu,” serobot Lastri tak peduli.Lastri lantas mengalihkan pandangannya pada sang putri. “Ngomong-ngomong, H
Baca selengkapnya