Aroma cat minyak yang tajam di dalam galeri rahasia itu mendadak terasa mencekik, seolah oksigen di ruangan tanpa jendela itu telah habis terbakar oleh kemarahan Alana. Ia menatap puluhan wajahnya sendiri di dinding, wajah-wajah yang direkam tanpa izin, dicuri dari masa remajanya, dan dipenjara dalam bingkai emas yang dingin."Kau pemangsa, Julian," suara Alana bergetar, bukan karena takut, tapi karena rasa hina yang luar biasa. "Selama ini aku merasa kasihan padamu. Aku mengira kau pria kesepian yang hanya ingin dilindungi. Tapi ternyata kau adalah arsitek dari semua kehancuranku. Kau membiarkan ayahku berjudi, kau menunggu dia hancur, semua hanya agar kau punya alasan untuk membeliku sebagai barang koleksi!"Julian berdiri mematung di tengah ruangan. Wajahnya yang biasanya sekeras granit kini tampak retak. "Aku tidak membelimu, Alana. Aku menjemputmu.""Menjemputku?!" Alana tertawa getir, air mata kemarahan mengalir deras. Ia menyambar sebuah palet besi yang tergeletak di meja lukis
Read more