Mesin jet pribadi itu menderu halus, membelah awan di ketinggian ribuan kaki di atas Samudra Hindia. Di dalam kabin yang mewah, Alana menatap ke luar jendela, melihat gugusan pulau kecil yang nampak seperti zamrud yang tersebar di atas permadani biru tua. Jakarta, dengan segala hiruk-pikuk pengkhianatan Rendy dan intrik bisnis yang nyaris merenggut nyawa Julian, terasa jutaan mil jauhnya.Julian duduk di hadapannya, masih nampak sedikit pucat namun sorot matanya telah kembali tajam. Ia menutup laptopnya—tindakan yang jarang sekali ia lakukan—dan menatap Alana dengan kelembutan yang masih terasa asing."Kita hampir sampai," ucap Julian pelan. "Hanya ada kita di sana, Alana. Tidak ada pengawal di depan pintu kamar, tidak ada telepon dari kantor, dan tidak ada gangguan dari siapa pun."Alana menoleh, tersenyum tipis. "Kau benar-benar membawa kita ke ujung dunia hanya untuk bersembunyi?"Julian meraih tangan Alana, mengecup punggung tangannya lama. "Bukan bersembunyi. Aku hanya ingin memi
Read more