[Jangan meneleponku berkali-kali lagi, berisik.]Aku menatap pesan itu di ponsel dengan menggigit bibirku sampai berdarah.'Dion, aku janji padamu.''Ke depannya, kita tidak lagi punya hubungan apa pun.''Selamat, semoga kamu bahagia.'…Kenangan berhenti sampai di situ.Dion sedikit mendorong aku, lalu dengan nada datar mengingatkan, “Ingat, besok pergi urus perceraian, jangan pura-pura sakit lagi.”Aku tertegun sebentar, lalu teringat sesuatu.Di hari ketiga setelah keguguran, Dion meneleponku.Itu adalah satu-satunya panggilan telepon darinya, di depan kantor catatan sipil.Saat itu, setelah diinfus semalaman, kondisiku masih sangat buruk.Ketika menjawab telepon, aku salah menekan, dan telepon menjadi mode speaker.Nada penuh emosi dari Dion menggema di seluruh ruangan rawat pasien.“Nana, apa maksudmu begini?”“Kita sudah sepakat jam 9 bercerai, sekarang sudah jam 12 siang. Kali ini alasan apa lagi yang kamu buat agar tidak bercerai?”Di bawah tatapan aneh perawat, aku menahan dir
Read more