Share

Genap 100 kali
Genap 100 kali
Author: Galaxy

Bab 1

Author: Galaxy
Di hari ketujuh pasca keguguran, saat di pusat perbelanjaan aku bertemu Dion.

Dia membawa berbagai ukuran kantong belanja, saat melihat Erin tatapan matanya memancarkan kelembutan.

Tapi saat melihatku, hanya sekilas saja pun, dia langsung mengerutkan kening.

“Kamu kenapa di sini juga? Bukannya kita sudah sepakat untuk bercerai dulu? Apa jangan-jangan kamu menyesal?”

Dia menatapku penuh waspada, tatapan dinginnya menembus langsung ke dalam lubuk hatiku.

Erin melirik Dion dengan manja, kemudian dengan tidak enak hati menatapku.

“Kak Nana, jangan salah paham, Kak Dion hanya sangat ingin menikah denganku.”

Sambil berkata begitu, Erin sedikit melirik ke perutku, tersenyum penuh kemenangan.

“Pernikahan kami diadakan satu minggu lagi, aku akan menyambutmu dan bayimu untuk merayakan bersama.”

Tanpa sadar aku menyentuh perut bagian bawahku, belum sempat aku membuka mulut, Dion sudah menambahkan, “Dia kan sedang hamil, mana boleh menghadiri pernikahan? Kalau sampai membawa sial untukmu, bakal buruk.”

Tanganku yang tadi kuletakkan di atas perutku langsung kaku. Lagi-lagi aku dibuat tercengang oleh sikap dingin dan tidak berperasaan milik Dion.

Erin saja yang mengidap penyakit kronis, kamu tidak merasa itu kesialan.

Setiap hari keluar masuk rumah sakit, kamu tidak merasa itu kesialan.

Aku yang mengandung darah dagingmu, malah dianggap pembawa sial.

Sungguh ironis.

Tapi aku memang bukan Erin, mana pantas aku mendapat perhatianmu.

Kalau tidak, kamu tidak akan mengabaikanku tanpa mengunjungiku sama sekali, meski tahu aku sedang di rumah sakit, berjuang mempertahankan kehamilan.

Padahal jika kamu mau bertanya sekali saja, kamu akan tahu kalau anak kita sudah tiada.

Melihatku yang tidak mengucapkan apa-apa, Dion juga tidak peduli. Dia menundukkan kepala, sibuk berbicara tentang detail acara pernikahannya dengan Erin.

Aku menatap mereka tanpa berkata apa pun, di otakku melintas berbagai gambaran kenangan.

Sejak Erin didiagnosis punya penyakit yang parah, Dion langsung berubah seolah menjadi orang lain.

Dia juga tidak lagi peduli dengan anak kita, bahkan tidak lagi mau pulang ke rumah.

Tiba-tiba ketidakhadirannya menjadi hal yang sering terjadi.

Awalnya dia berkata, “Nana, Erin sakit parah, aku tidak mungkin tidak berada di sisinya.”

“Jangan khawatir, aku hanya kasihan padanya, tidak ada maksud lain.”

Kemudian dia berkata, “Nana, keinginan terbesar Erin sebelum meninggal adalah menikah denganku, aku tidak ingin hidupnya penuh penyesalan.”

Aku tahu maksud tersembunyi dari perkataannya, tapi aku tidak ingin memahaminya.

Maksud tersembunyi seperti itu sudah dia utarakan 99 kali.

Dan sebanyak itu pula aku mencari alasan untuk menolak.

Sampai pada yang ke-100 kali, perkataan Dion tidak lagi sebuah maksud tersembunyi.

Saat itu, hari di mana aku baru saja menerima suntikan ke-32 untuk mempertahankan kehamilan. Aku baru keluar dari rumah sakit ketika pesan dari Dion masuk.

Tanpa kepedulian, tanpa bujukan, hanya sebuah pemberitahuan yang dingin.

[Lusa, jam 9 pagi, ayo bertemu di kantor catatan sipil, kita bercerai.]

Hanya satu kalimat, 12 kata, seketika membuatku panik tak terkendali.

Hari itu, aku jatuh dan terbaring lemas di lantai tempat parkir, menelepon Dion berkali-kali.

Namun pada akhirnya, satu-satunya yang berhasil dihubungi hanyalah ambulans.

Kata dokter, anak itu tidak berhasil diselamatkan.

Aku berbaring di ranjang pasien, menunggu semalaman hingga pagi datang, tapi hanya mendapatkan satu kalimat darinya.
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Genap 100 kali   Bab 10

    Kami berdua tetap tersenyum padanya, berdiri di pintu sambil mengucapkan basa-basi.Reaksi yang dia dapatkan ini justru lebih menyakitkan dibanding cercaan.Karena aku telah benar-benar melepaskan semua urusan masa lalu, dan tidak lagi punya perasaan berlebih.Karena semua kesedihan, semua kegelisahan yang dia rasakan sama sekali tidak layak.Dion pergi dengan kesal seolah baru saja disiram seember air dingin.Sebuah pintu yang memberi jarak di antara kita, akulah yang menutupnya.Dion naik pesawat untuk pulang ke negara asal, sendirian.Kembali ke rumah dingin itu, di depan pintu tergeletak beberapa buket bunga yang sudah layu.Belum sempat Dion membuka pintu, tiba-tiba ponselnya berbunyi dengan nyaring.Di seberang sana, suara Erin melengking tajam.“Dion, kalau kamu tidak mau menerima kenyataan, ya sudah nikmati saja hukumannya! Kamu masih punya urusan denganku!”“Kalau kamu masih tidak mau merelakan Nana, hidupmu akan selamanya di bawah bayang-bayangnya.”Dion memutus sambungan tel

  • Genap 100 kali   Bab 9

    Dion sedikit linglung, barang-barang ini disiapkan untuk siapa?Tentu saja disiapkan untuk anak kita yang lucu.Tapi, bagaimana nasib anak itu sekarang?Ternyata ayahnya sendirilah yang menyakitinya sampai dia tidak bisa bertahan hidup.Dulu Dion mengabaikan semua panggilan telepon dariku, mungkin ini termasuk hukuman untuknya dari anak itu.Dion jatuh terduduk di tepi kasur, dia tidak mampu menenangkan diri untuk waktu yang sangat lama.Aku sudah memutus hubungan apa pun dengannya, Erin juga bukan orang yang baik.Bisa dibilang ini memang balasan yang pantas untuknya.Kata-kata menusuk dari Erin sebelum pergi kini terdengar seperti sebuah karma buruk.Namun, kehidupan sengsara milik Erin sejak dulu itu, siapa tahu memang akibat yang harus dia tanggung lebih awal untuk kejahatan yang akan dia lakukan di masa depan.Erin telah berkali-kali menipunya menggunakan alasan penyakit kronis, tapi anehnya Dion selalu percaya.Penyakit kronis mungkin memang bisa membuat orang kehilangan pemikira

  • Genap 100 kali   Bab 8

    Suara si dokter berubah menjadi lebih tegas.“Nona, kamu membuang-buang sumber daya medis. Kalau kamu tetap seperti ini, aku akan menghubungi keluargamu.”Dion tidak bisa menahan diri lagi, dia segera membuka pintu kamar pasien tersebut.“Tidak perlu.”Suara itu agaknya seperti petir yang menyambar Erin.“Dion, kenapa kamu datang?”Kedatangan Dion sangat mengejutkan Erin sampai matanya terbelalak.“Bukannya kamu bilang kamu menderita penyakit kronis? Dokter, sebenarnya apa yang terjadi?”Tatapan dokter itu pada Dion sangat serius.“Apa dia tunangan Anda? Meski saya tidak tahu alasannya, tapi kondisi tubuhnya sangat sehat.”Dokter itu masih terlihat agak kesal, bahkan sebelum keluar dari kamar pasien, dia berkata, “Segera urus administrasi keluar rumah sakit, jangan sampai memengaruhi perawatan pasien lain.”Dion tersentak mendengar perkataan dokter tersebut, keningnya berkerut menunjukkan ketidakpercayaan.“Erin, sebaiknya kamu memberiku penjelasan yang masuk akal!”Erin buka suara, bi

  • Genap 100 kali   Bab 7

    Kenangan itu terus membanjiri pikirannya tanpa ampun.Saat itu kelopak bunga poplar beterbangan di udara, aku batuk parah karena alergi, tapi demi bayi yang kukandung, aku tidak berani minum obat.Waktu mau ke rumah sakit, sebuah panggilan telepon menghentikan perjalanan, orang di seberang sana bilang hidupnya sudah di ambang kematian.Dion dihadapkan dua pilihan, dan dia memilih pergi menemui Erin sebagai pertemuan terakhir.Ada lagi, di kala embun salju menempel pada jendela, aku dan dia melihat pohon di depan jendela yang daunnya sedang berguguran satu per satu.Aku bilang mau mengumpulkan daun-daun gugur itu untuk dijadikan karya lukisan, yang nantinya akan dihadiahkan ke anak kita.Sayangnya, anak itu tidak sempat lahir ke dunia, dia tidak punya kesempatan menerima hadiah itu.Setiap kejadian tergambar jelas di benaknya, sebenarnya dia tahu betul semua penderitaan yang aku alami.Tapi jika mengingat semua itu sekarang, telepon Erin sudah datang bertubi-tubi untuk mengganggu, membu

  • Genap 100 kali   Bab 6

    Ketika Dion berpikir bahwa Erin menderita penyakit kronis, dalam hatinya secara alami muncul rasa iba.Erin bisa merasakan ada kekuatan yang perlahan menjauh darinya.Meski pandangannya gelap, dia yakin di sekelilingnya ada suatu perasaan yang mulai memudar.Erin membuka matanya, langit-langit yang sudah menguning itu seolah menatapnya dengan sembunyi-sembunyi.“Dion.”Untunglah, sepasang tangan itu tidak meninggalkannya begitu saja.Semua yang dia upayakan selama ini, sekarang malah membuatnya merasa bingung dan gelisah.Air mata mengucur dari mata Erin.“Dion, kalau tidak ada kamu, apa aku akan terlantar di jalanan?”Erin menggenggam erat tangan Dion.“Aku takut sekali, takut saat mataku terbuka, aku tidak bisa melihat kamu, takut aku harus sendirian menghadapi penyakit ini.”Permohonan Erin terdengar samar di telinga Dion saat itu.“Jangan tinggalkan aku ….”Erin diam sejenak, suaranya terdengar lemah.“Seperti yang terjadi sejak dulu, ya?”Tapi kali ini Erin tidak mendapatkan jawab

  • Genap 100 kali   Bab 5

    Hitam di atas putih itu bisu tapi menyampaikan segalanya.Itu adalah tulisan yang sangat mengerikan, menusuk penglihatan Dion seperti duri.Dion sempat kehilangan kendali sesaat, tanpa sadar mengambil beberapa langkah mundur.Beberapa waktu kemudian, tanpa peduli dengan tatapan orang, Dion mengeluarkan teriakan yang memilukan.Meskipun segala keputusan sudah tidak bisa diubah, dia tetap terseok dan menatapku dengan penuh kemarahan serta ketidakpercayaan.“Tidak masuk akan! Kita jelas sudah sepakat, kenapa kamu masih mengutuk anak kita seperti ini?”Aku tidak bereaksi, hanya menatap raut wajahnya yang terlihat lucu dan menyedihkan dengan pandangan jijik.Dia tidak peduli dengan keadaanku yang masih lemah, terus meluapkan amarahnya.“Kamu itu ibu, bagaimana bisa melakukan hal sekejam ini?”Saat itu, aku hanya tertawa sinis, tidak tahu harus bagaimana memperlakukan Dion.“Sudah keseratus kalinya, kebohongan yang sempurna akhirnya akan terbongkar, bukan?”Dion lebih memilih menaruh curiga

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status