Teilen

Bab 2

Galaxy
[Jangan meneleponku berkali-kali lagi, berisik.]

Aku menatap pesan itu di ponsel dengan menggigit bibirku sampai berdarah.

'Dion, aku janji padamu.'

'Ke depannya, kita tidak lagi punya hubungan apa pun.'

'Selamat, semoga kamu bahagia.'

Kenangan berhenti sampai di situ.

Dion sedikit mendorong aku, lalu dengan nada datar mengingatkan, “Ingat, besok pergi urus perceraian, jangan pura-pura sakit lagi.”

Aku tertegun sebentar, lalu teringat sesuatu.

Di hari ketiga setelah keguguran, Dion meneleponku.

Itu adalah satu-satunya panggilan telepon darinya, di depan kantor catatan sipil.

Saat itu, setelah diinfus semalaman, kondisiku masih sangat buruk.

Ketika menjawab telepon, aku salah menekan, dan telepon menjadi mode speaker.

Nada penuh emosi dari Dion menggema di seluruh ruangan rawat pasien.

“Nana, apa maksudmu begini?”

“Kita sudah sepakat jam 9 bercerai, sekarang sudah jam 12 siang. Kali ini alasan apa lagi yang kamu buat agar tidak bercerai?”

Di bawah tatapan aneh perawat, aku menahan diri sekuat mungkin untuk tidak gemetar, lalu menjawab pelan, “Aku di rumah sakit.”

Suara napas di ujung telepon sempat berhenti sebentar, kemudian dengan cepat kembali seperti semula.

Aku mendengar tawa meremehkan dari Dion.

“Sudahlah, jangan cari-cari alasan lagi. Aku akan memberimu satu kesempatan terakhir.”

“Rabu minggu depan, kita bertemu di kantor catatan sipil.”

Panggilan telepon diputus, perawat tidak berkata apa pun, hanya diam-diam langsung keluar.

Saat suara pintu tertutup terdengar, harga diriku runtuh sepenuhnya.

Aku baru sadar, yang paling membuat sedih bukanlah luka dari orang terkasih.

Tapi tatapan iba dari orang lain yang melihat kita tersakiti oleh orang terkasih.

Aku memejamkan mata, berusaha menarik diri dari kubangan kenangan.

“Iya.”

Dion mengangkat alisnya, lalu lanjut bicara, “Setelah bercerai, menetaplah dengan tenang di rumah sambil menjaga kandungan. Kalau tidak ada hal penting, jangan mencariku.”

“Iya.”

Mungkin karena jawabanku yang terlalu cepat menyetujui, Dion justru tertegun sejenak.

Dia melepaskan rangkulannya pada Erin, pandangannya jatuh ke perutku.

“Bagaimana bayinya? Belakangan ini apa dia rewel?”

Begitu kalimat itu keluar, seketika itu juga mataku memerah.

Sekuat tenaga aku menahan isakan di tenggorokan.

“Dia baik, sangat baik.”

Begitu baiknya, dia tidak tega membuatku menderita terlalu lama saat dia pergi.

Takut perasaanku tidak lagi terkendali, aku tidak berani bicara lagi dan langsung pergi.

Ketika melewatinya, aku melihat bekas lipstik di kerah baju Dion.

Warnanya persis dengan warna bibir Erin.

Juga persis dengan darah di lantai tempat parkir hari itu.

Saat melewati toko perlengkapan ibu dan bayi, seorang pegawai menghentikan aku dengan ramah.

“Nona Nana, baju yang Anda pesan sudah datang.”

“Apa hari ini bisa diambil?”

Aku sebenarnya ingin bilang kalau itu tidak perlu lagi, namun pandanganku tanpa bisa aku kontrol, terpaku pada gambar bayi di poster.

Kalau anakku bisa dilahirkan, pasti dia juga selucu itu.

Selagi aku melamun, pegawai toko itu dengan cekatan membungkus baju pesananku dan menyerahkan ke tanganku.

Itu sebuah baju bayi model terusan berwarna kuning pucat.

Warna kesukaan Dion.

Aku menatap kosong baju kecil di dalam kantong belanja, lalu dengan keadaan yang kacau, aku lari keluar dari pusat perbelanjaan.

Saat pintu mobil tertutup, akhirnya air mataku tidak sanggup dibendung lagi.

Sebuah tangisan dari seorang ibu yang kehilangan anaknya, apa masih bisa terbendung?

Sekarang aku tahu jawabannya.

Sampai di rumah, hari sudah larut malam.

Begitu membuka kulkas, mataku langsung tertuju pada pepaya.

Saat hamil, aku tidak boleh memakannya, setiap kali melihatnya air liurku serasa menetes.
Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen

Aktuellstes Kapitel

  • Genap 100 kali   Bab 10

    Kami berdua tetap tersenyum padanya, berdiri di pintu sambil mengucapkan basa-basi.Reaksi yang dia dapatkan ini justru lebih menyakitkan dibanding cercaan.Karena aku telah benar-benar melepaskan semua urusan masa lalu, dan tidak lagi punya perasaan berlebih.Karena semua kesedihan, semua kegelisahan yang dia rasakan sama sekali tidak layak.Dion pergi dengan kesal seolah baru saja disiram seember air dingin.Sebuah pintu yang memberi jarak di antara kita, akulah yang menutupnya.Dion naik pesawat untuk pulang ke negara asal, sendirian.Kembali ke rumah dingin itu, di depan pintu tergeletak beberapa buket bunga yang sudah layu.Belum sempat Dion membuka pintu, tiba-tiba ponselnya berbunyi dengan nyaring.Di seberang sana, suara Erin melengking tajam.“Dion, kalau kamu tidak mau menerima kenyataan, ya sudah nikmati saja hukumannya! Kamu masih punya urusan denganku!”“Kalau kamu masih tidak mau merelakan Nana, hidupmu akan selamanya di bawah bayang-bayangnya.”Dion memutus sambungan tel

  • Genap 100 kali   Bab 9

    Dion sedikit linglung, barang-barang ini disiapkan untuk siapa?Tentu saja disiapkan untuk anak kita yang lucu.Tapi, bagaimana nasib anak itu sekarang?Ternyata ayahnya sendirilah yang menyakitinya sampai dia tidak bisa bertahan hidup.Dulu Dion mengabaikan semua panggilan telepon dariku, mungkin ini termasuk hukuman untuknya dari anak itu.Dion jatuh terduduk di tepi kasur, dia tidak mampu menenangkan diri untuk waktu yang sangat lama.Aku sudah memutus hubungan apa pun dengannya, Erin juga bukan orang yang baik.Bisa dibilang ini memang balasan yang pantas untuknya.Kata-kata menusuk dari Erin sebelum pergi kini terdengar seperti sebuah karma buruk.Namun, kehidupan sengsara milik Erin sejak dulu itu, siapa tahu memang akibat yang harus dia tanggung lebih awal untuk kejahatan yang akan dia lakukan di masa depan.Erin telah berkali-kali menipunya menggunakan alasan penyakit kronis, tapi anehnya Dion selalu percaya.Penyakit kronis mungkin memang bisa membuat orang kehilangan pemikira

  • Genap 100 kali   Bab 8

    Suara si dokter berubah menjadi lebih tegas.“Nona, kamu membuang-buang sumber daya medis. Kalau kamu tetap seperti ini, aku akan menghubungi keluargamu.”Dion tidak bisa menahan diri lagi, dia segera membuka pintu kamar pasien tersebut.“Tidak perlu.”Suara itu agaknya seperti petir yang menyambar Erin.“Dion, kenapa kamu datang?”Kedatangan Dion sangat mengejutkan Erin sampai matanya terbelalak.“Bukannya kamu bilang kamu menderita penyakit kronis? Dokter, sebenarnya apa yang terjadi?”Tatapan dokter itu pada Dion sangat serius.“Apa dia tunangan Anda? Meski saya tidak tahu alasannya, tapi kondisi tubuhnya sangat sehat.”Dokter itu masih terlihat agak kesal, bahkan sebelum keluar dari kamar pasien, dia berkata, “Segera urus administrasi keluar rumah sakit, jangan sampai memengaruhi perawatan pasien lain.”Dion tersentak mendengar perkataan dokter tersebut, keningnya berkerut menunjukkan ketidakpercayaan.“Erin, sebaiknya kamu memberiku penjelasan yang masuk akal!”Erin buka suara, bi

  • Genap 100 kali   Bab 7

    Kenangan itu terus membanjiri pikirannya tanpa ampun.Saat itu kelopak bunga poplar beterbangan di udara, aku batuk parah karena alergi, tapi demi bayi yang kukandung, aku tidak berani minum obat.Waktu mau ke rumah sakit, sebuah panggilan telepon menghentikan perjalanan, orang di seberang sana bilang hidupnya sudah di ambang kematian.Dion dihadapkan dua pilihan, dan dia memilih pergi menemui Erin sebagai pertemuan terakhir.Ada lagi, di kala embun salju menempel pada jendela, aku dan dia melihat pohon di depan jendela yang daunnya sedang berguguran satu per satu.Aku bilang mau mengumpulkan daun-daun gugur itu untuk dijadikan karya lukisan, yang nantinya akan dihadiahkan ke anak kita.Sayangnya, anak itu tidak sempat lahir ke dunia, dia tidak punya kesempatan menerima hadiah itu.Setiap kejadian tergambar jelas di benaknya, sebenarnya dia tahu betul semua penderitaan yang aku alami.Tapi jika mengingat semua itu sekarang, telepon Erin sudah datang bertubi-tubi untuk mengganggu, membu

  • Genap 100 kali   Bab 6

    Ketika Dion berpikir bahwa Erin menderita penyakit kronis, dalam hatinya secara alami muncul rasa iba.Erin bisa merasakan ada kekuatan yang perlahan menjauh darinya.Meski pandangannya gelap, dia yakin di sekelilingnya ada suatu perasaan yang mulai memudar.Erin membuka matanya, langit-langit yang sudah menguning itu seolah menatapnya dengan sembunyi-sembunyi.“Dion.”Untunglah, sepasang tangan itu tidak meninggalkannya begitu saja.Semua yang dia upayakan selama ini, sekarang malah membuatnya merasa bingung dan gelisah.Air mata mengucur dari mata Erin.“Dion, kalau tidak ada kamu, apa aku akan terlantar di jalanan?”Erin menggenggam erat tangan Dion.“Aku takut sekali, takut saat mataku terbuka, aku tidak bisa melihat kamu, takut aku harus sendirian menghadapi penyakit ini.”Permohonan Erin terdengar samar di telinga Dion saat itu.“Jangan tinggalkan aku ….”Erin diam sejenak, suaranya terdengar lemah.“Seperti yang terjadi sejak dulu, ya?”Tapi kali ini Erin tidak mendapatkan jawab

  • Genap 100 kali   Bab 5

    Hitam di atas putih itu bisu tapi menyampaikan segalanya.Itu adalah tulisan yang sangat mengerikan, menusuk penglihatan Dion seperti duri.Dion sempat kehilangan kendali sesaat, tanpa sadar mengambil beberapa langkah mundur.Beberapa waktu kemudian, tanpa peduli dengan tatapan orang, Dion mengeluarkan teriakan yang memilukan.Meskipun segala keputusan sudah tidak bisa diubah, dia tetap terseok dan menatapku dengan penuh kemarahan serta ketidakpercayaan.“Tidak masuk akan! Kita jelas sudah sepakat, kenapa kamu masih mengutuk anak kita seperti ini?”Aku tidak bereaksi, hanya menatap raut wajahnya yang terlihat lucu dan menyedihkan dengan pandangan jijik.Dia tidak peduli dengan keadaanku yang masih lemah, terus meluapkan amarahnya.“Kamu itu ibu, bagaimana bisa melakukan hal sekejam ini?”Saat itu, aku hanya tertawa sinis, tidak tahu harus bagaimana memperlakukan Dion.“Sudah keseratus kalinya, kebohongan yang sempurna akhirnya akan terbongkar, bukan?”Dion lebih memilih menaruh curiga

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status