Share

Bab 3

Penulis: Galaxy
Sekarang aku boleh memakannya, tapi begitu melihatnya, aku hanya ingin menangis.

Di dapur, aku membuat dua lauk.

Pepaya rebus yang dicampur susu dan seporsi bubur ayam.

Saat aku hendak makan, di pintu terdengar suara kunci terbuka.

Dion masuk, menenteng sebuah koper.

Aku merasakan keanehan, sejak kejadian yang menimpa Erin, dia sudah lama tidak pulang.

“Kenapa kamu pulang? Tidak menemani Erin?”

Dion menyeret koper masuk ke kamar sambil bicara sekenanya, “Aku kan mau menikah dengan Erin, makanya aku pulang membawa koper.”

“Agar nanti tidak repot.”

Aku mengangguk, tapi dalam hati tidak bisa menahan untuk tidak mengingat ucapan Erin.

“Pernikahan kita seminggu lagi, aku menyambut kehadiranmu dan bayimu.”

Benar, tidak lama lagi.

Kalau tidak segera memindahkan barang, nanti bisa tercemar oleh kesialanku dan sulit dihilangkan.

Air mataku menetes ke dalam mangkuk, seperti cinta Dion padaku yang menghilang tanpa suara dan tanpa jejak.

Tapi jelas, dulu tidak seperti ini.

Jelas, dia juga pernah menantikan kelahiran anaknya.

Jelas, kita pernah bahagia dalam waktu yang lama.

Aku menunduk, hendak memakan bubur, Dion yang selesai membereskan barangnya tiba-tiba buka suara.

“Kamu membuat bubur ayam suwir?”

“Kebetulan, Erin belum makan malam, ini bisa mengganjal perutnya.”

Setelah berkata begitu, dia dengan santai melangkah maju dan merampas mangkuk bubur di tanganku.

Aku melihat tanganku yang kini kosong, untuk beberapa saat lupa bagaimana harus bereaksi.

Sampai di saat Dion sudah mengambil kotak makan yang bersih, aku tidak tahan lagi untuk bicara, “Ini makan malamku.”

Dion tanpa menengok, tetap melanjutkan mengemas kotak makan itu.

“Di meja masih ada makanan lain. Kamu makan itu saja.”

Pandangannya tertuju pada semangkuk pepaya susu rebus, aku menarik sudut bibirku sedikit, lalu berkata pelan, “Ibu hamil tidak boleh makan pepaya.”

Dion terkejut sejenak, lalu meletakkan kotak makan yang ada di tangannya.

“Kalau begitu … makan sedikit saja.”

“Lagipula kamu sudah periksa kehamilan berkali-kali dan tidak ada masalah besar. Makan pepaya sedikit seharusnya tidak masalah, kan?”

Pangkal hidungku terasa perih, aku mendongak, tidak membiarkan air mataku menetes.

“Tidak masalah.”

Anak itu sudah tidak ada, semuanya tidak masalah.

Mungkin karena melihatku sedih, Dion menghela napas dan memelukku.

“Nana, bisakah kamu bertahan sedikit lagi?”

“Setelah pernikahan ini selesai, aku pasti akan menemanimu dengan baik. Tahan dulu, ya?”

Aku mengangguk, tapi dalam hatiku, kenangan masa lalu terus muncul tanpa bisa ditahan.

“Nana, Erin tidak bisa ditinggal. Tunggu sampai keadaannya membaik, nanti aku baru bisa menemanimu periksa kehamilan.”

“Nana, Erin demam. Tunggu sampai dia selesai diperiksa, nanti aku telepon kamu.”

“Nana, Erin tidak mengizinkanku pergi. Tunggu sampai dia tidur, nanti aku pulang dan menemanimu.”

Dion, kapan kamu akan sadar kalau aku sudah tidak sanggup menunggu lagi?

Aku melepaskan diri dari pelukannya, lalu menyodorkan kotak makan itu ke tangan Dion.

“Pergilah.”

Jangan menoleh ke belakang.

Saat pintu akan tertutup, aku memanggilnya.

“Dion, apa kamu ingat, hari itu kali keberapa kamu menyebutkan perceraian padaku?”

Bayangan punggung Dion terlihat berhenti, tapi sebelum dia sempat menjawab, aku melanjutkan, “Yang keseratus kalinya.”

“Hari ini adalah keinginanmu bercerai yang keseratus satu.”

“Besok, di depan kantor catatan sipil, kita tidak boleh melewatkan pertemuannya.”

Setelah mengucapkan itu, aku melangkah cepat, lalu dengan perlahan dan mantap menutup pintu.

Aku bersandar di pintu, di balik sana aku mendengar napas Dion yang memburu.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Genap 100 kali   Bab 10

    Kami berdua tetap tersenyum padanya, berdiri di pintu sambil mengucapkan basa-basi.Reaksi yang dia dapatkan ini justru lebih menyakitkan dibanding cercaan.Karena aku telah benar-benar melepaskan semua urusan masa lalu, dan tidak lagi punya perasaan berlebih.Karena semua kesedihan, semua kegelisahan yang dia rasakan sama sekali tidak layak.Dion pergi dengan kesal seolah baru saja disiram seember air dingin.Sebuah pintu yang memberi jarak di antara kita, akulah yang menutupnya.Dion naik pesawat untuk pulang ke negara asal, sendirian.Kembali ke rumah dingin itu, di depan pintu tergeletak beberapa buket bunga yang sudah layu.Belum sempat Dion membuka pintu, tiba-tiba ponselnya berbunyi dengan nyaring.Di seberang sana, suara Erin melengking tajam.“Dion, kalau kamu tidak mau menerima kenyataan, ya sudah nikmati saja hukumannya! Kamu masih punya urusan denganku!”“Kalau kamu masih tidak mau merelakan Nana, hidupmu akan selamanya di bawah bayang-bayangnya.”Dion memutus sambungan tel

  • Genap 100 kali   Bab 9

    Dion sedikit linglung, barang-barang ini disiapkan untuk siapa?Tentu saja disiapkan untuk anak kita yang lucu.Tapi, bagaimana nasib anak itu sekarang?Ternyata ayahnya sendirilah yang menyakitinya sampai dia tidak bisa bertahan hidup.Dulu Dion mengabaikan semua panggilan telepon dariku, mungkin ini termasuk hukuman untuknya dari anak itu.Dion jatuh terduduk di tepi kasur, dia tidak mampu menenangkan diri untuk waktu yang sangat lama.Aku sudah memutus hubungan apa pun dengannya, Erin juga bukan orang yang baik.Bisa dibilang ini memang balasan yang pantas untuknya.Kata-kata menusuk dari Erin sebelum pergi kini terdengar seperti sebuah karma buruk.Namun, kehidupan sengsara milik Erin sejak dulu itu, siapa tahu memang akibat yang harus dia tanggung lebih awal untuk kejahatan yang akan dia lakukan di masa depan.Erin telah berkali-kali menipunya menggunakan alasan penyakit kronis, tapi anehnya Dion selalu percaya.Penyakit kronis mungkin memang bisa membuat orang kehilangan pemikira

  • Genap 100 kali   Bab 8

    Suara si dokter berubah menjadi lebih tegas.“Nona, kamu membuang-buang sumber daya medis. Kalau kamu tetap seperti ini, aku akan menghubungi keluargamu.”Dion tidak bisa menahan diri lagi, dia segera membuka pintu kamar pasien tersebut.“Tidak perlu.”Suara itu agaknya seperti petir yang menyambar Erin.“Dion, kenapa kamu datang?”Kedatangan Dion sangat mengejutkan Erin sampai matanya terbelalak.“Bukannya kamu bilang kamu menderita penyakit kronis? Dokter, sebenarnya apa yang terjadi?”Tatapan dokter itu pada Dion sangat serius.“Apa dia tunangan Anda? Meski saya tidak tahu alasannya, tapi kondisi tubuhnya sangat sehat.”Dokter itu masih terlihat agak kesal, bahkan sebelum keluar dari kamar pasien, dia berkata, “Segera urus administrasi keluar rumah sakit, jangan sampai memengaruhi perawatan pasien lain.”Dion tersentak mendengar perkataan dokter tersebut, keningnya berkerut menunjukkan ketidakpercayaan.“Erin, sebaiknya kamu memberiku penjelasan yang masuk akal!”Erin buka suara, bi

  • Genap 100 kali   Bab 7

    Kenangan itu terus membanjiri pikirannya tanpa ampun.Saat itu kelopak bunga poplar beterbangan di udara, aku batuk parah karena alergi, tapi demi bayi yang kukandung, aku tidak berani minum obat.Waktu mau ke rumah sakit, sebuah panggilan telepon menghentikan perjalanan, orang di seberang sana bilang hidupnya sudah di ambang kematian.Dion dihadapkan dua pilihan, dan dia memilih pergi menemui Erin sebagai pertemuan terakhir.Ada lagi, di kala embun salju menempel pada jendela, aku dan dia melihat pohon di depan jendela yang daunnya sedang berguguran satu per satu.Aku bilang mau mengumpulkan daun-daun gugur itu untuk dijadikan karya lukisan, yang nantinya akan dihadiahkan ke anak kita.Sayangnya, anak itu tidak sempat lahir ke dunia, dia tidak punya kesempatan menerima hadiah itu.Setiap kejadian tergambar jelas di benaknya, sebenarnya dia tahu betul semua penderitaan yang aku alami.Tapi jika mengingat semua itu sekarang, telepon Erin sudah datang bertubi-tubi untuk mengganggu, membu

  • Genap 100 kali   Bab 6

    Ketika Dion berpikir bahwa Erin menderita penyakit kronis, dalam hatinya secara alami muncul rasa iba.Erin bisa merasakan ada kekuatan yang perlahan menjauh darinya.Meski pandangannya gelap, dia yakin di sekelilingnya ada suatu perasaan yang mulai memudar.Erin membuka matanya, langit-langit yang sudah menguning itu seolah menatapnya dengan sembunyi-sembunyi.“Dion.”Untunglah, sepasang tangan itu tidak meninggalkannya begitu saja.Semua yang dia upayakan selama ini, sekarang malah membuatnya merasa bingung dan gelisah.Air mata mengucur dari mata Erin.“Dion, kalau tidak ada kamu, apa aku akan terlantar di jalanan?”Erin menggenggam erat tangan Dion.“Aku takut sekali, takut saat mataku terbuka, aku tidak bisa melihat kamu, takut aku harus sendirian menghadapi penyakit ini.”Permohonan Erin terdengar samar di telinga Dion saat itu.“Jangan tinggalkan aku ….”Erin diam sejenak, suaranya terdengar lemah.“Seperti yang terjadi sejak dulu, ya?”Tapi kali ini Erin tidak mendapatkan jawab

  • Genap 100 kali   Bab 5

    Hitam di atas putih itu bisu tapi menyampaikan segalanya.Itu adalah tulisan yang sangat mengerikan, menusuk penglihatan Dion seperti duri.Dion sempat kehilangan kendali sesaat, tanpa sadar mengambil beberapa langkah mundur.Beberapa waktu kemudian, tanpa peduli dengan tatapan orang, Dion mengeluarkan teriakan yang memilukan.Meskipun segala keputusan sudah tidak bisa diubah, dia tetap terseok dan menatapku dengan penuh kemarahan serta ketidakpercayaan.“Tidak masuk akan! Kita jelas sudah sepakat, kenapa kamu masih mengutuk anak kita seperti ini?”Aku tidak bereaksi, hanya menatap raut wajahnya yang terlihat lucu dan menyedihkan dengan pandangan jijik.Dia tidak peduli dengan keadaanku yang masih lemah, terus meluapkan amarahnya.“Kamu itu ibu, bagaimana bisa melakukan hal sekejam ini?”Saat itu, aku hanya tertawa sinis, tidak tahu harus bagaimana memperlakukan Dion.“Sudah keseratus kalinya, kebohongan yang sempurna akhirnya akan terbongkar, bukan?”Dion lebih memilih menaruh curiga

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status