Share

Bab 4

Author: Galaxy
Dia tidak pergi, aku juga tidak bergerak dari posisiku.

Tubuh kami hanya dipisahkan oleh daun pintu setebal 10 sentimeter.

Tapi hati kita terpisah terlampai jauh.

Detik berikutnya, Dion mengambil kunci dan membuka pintu itu.

Dia tidak masuk, hanya memandangku cukup lama.

Pada akhirnya, dia merogoh sakunya dan mengeluarkan sebuah lonceng berukuran telapak tangan, dia berikan lonceng itu padaku.

“Aku melihat ini di pusat perbelanjaan hari ini, bayi kita pasti akan suka.”

Kalimat itu menghancurkan pertahananku selama ini.

Sesaat setelah menerima lonceng itu, aku langsung menutup pintu dan menguncinya. Aku pun jatuh terduduk di lantai sambil menangis tanpa suara.

Aku tidak mengerti, kenapa manusia selalu baru menyadari rasa cinta setelah kehilangan.

Kenapa saat aku sudah membulatkan tekadku, dia selalu memberi secercah harapan?

Lonceng itu jatuh ke lantai, memunculkan suara ding yang lembut.

Aku duduk termangu di lantai semalaman.

Keesokan harinya, aku berangkat tepat waktu.

Aku baru saja masuk mobil ketika menerima telepon dari rumah sakit, mereka menyuruhku mengambil surat keguguran yang tertinggal.

Dulu aku tidak punya nyali untuk membukanya, aku meninggalkannya begitu saja di rumah sakit.

Pikirku, jika aku tidak melihatnya, aku bisa berpura-pura seolah tidak ada yang terjadi.

Sekarang, saatnya untuk terima kenyataan.

Jam 9 pagi, Dion terlambat.

Sepertinya dia juga tidak bisa tidur sepanjang malam, matanya terlihat kemerahan.

Saat melihatku, di matanya tersirat secercah kekecewaan.

“Aku kira … kamu tidak akan datang hari ini.”

Tanpa mengucapkan apa pun, aku melangkah lebih dulu masuk ke kantor catatan sipil.

Mana mungkin aku tidak datang?

Hari ini sudah kami tunggu begitu lama.

Saat hendak tanda tangan perceraian, Dion tiba-tiba ragu.

Gerakan pena hitam itu berhenti cukup lama di atas keras, seperti enggan bergerak.

Petugas yang melihat hal itu, dengan niat baik mulai menasihatinya, “Kalau Tuan belum yakin, bagaimana kalau dibatalkan saja?”

Aku tersenyum tipis, merasa miris.

Kalau dia memang belum yakin, bagaimana bisa dia minta bercerai sampai 100 kali?

“Nana, setelah pernikahanku dengan Erin berakhir, kita menikah lagi.”

Aku berpikir, dia telah begitu sering menipuku, kali ini giliran aku yang menipunya.

Saat memegang sertifikat perceraian, detak jantung Dion berdebar cepat.

Dia merasa seperti telah melewatkan sesuatu, membuat benaknya gelisah.

Dion keluar dari pintu, Erin juga sudah sampai.

Dia mengenakan gaun panjang berwarna kuning, di bawah penerangan sinar matahari, dia sama sekali tidak tampak sedang sakit parah.

Aku menoleh ke samping, memberi isyarat ke Dion.

“Erin menunggu kamu.”

Dion menganggukkan kepalanya dengan canggung, di wajahnya tidak ada kegembiraan.

Erin mendekat, mengeluarkan secarik undangan dari tasnya, lalu memberikannya padaku sambil tersenyum.

“Kak Nana, aku dan Dion sudah sepakat, kita tetap mengharapkan kedatanganmu dan bayimu di pernikahan kami.”

“Ini undangannya.”

Secara instingku yang impulsif, aku ingin bilang kalau aku sudah tidak mengandung bayi lagi, dan tidak akan datang ke pernikahan itu.

Tapi aku lagi-lagi menangkap ekspresi gugup dari Dion.

Sudahlah, lagipula kita sudah bercerai, bilang seperti itu juga tidak ada gunanya.

Aku menggeleng lalu berjalan melewati mereka berdua, hendak pergi.

Sepasang kekasih menabrakku dari arah berlawanan.

Bruk!

Tas tanganku jatuh, isinya berserakan di tanah.

Pupil mata Dion mengecil, dia segera menolongku bangkit, lalu dengan cemas bertanya, “Kamu baik-baik saja? Perutmu sakit tidak? Anak kita ….”

Kalimatnya terhenti di mulutnya.

Penglihatan pria itu tertuju pada surat keguguran yang tergeletak di tanah.
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Genap 100 kali   Bab 10

    Kami berdua tetap tersenyum padanya, berdiri di pintu sambil mengucapkan basa-basi.Reaksi yang dia dapatkan ini justru lebih menyakitkan dibanding cercaan.Karena aku telah benar-benar melepaskan semua urusan masa lalu, dan tidak lagi punya perasaan berlebih.Karena semua kesedihan, semua kegelisahan yang dia rasakan sama sekali tidak layak.Dion pergi dengan kesal seolah baru saja disiram seember air dingin.Sebuah pintu yang memberi jarak di antara kita, akulah yang menutupnya.Dion naik pesawat untuk pulang ke negara asal, sendirian.Kembali ke rumah dingin itu, di depan pintu tergeletak beberapa buket bunga yang sudah layu.Belum sempat Dion membuka pintu, tiba-tiba ponselnya berbunyi dengan nyaring.Di seberang sana, suara Erin melengking tajam.“Dion, kalau kamu tidak mau menerima kenyataan, ya sudah nikmati saja hukumannya! Kamu masih punya urusan denganku!”“Kalau kamu masih tidak mau merelakan Nana, hidupmu akan selamanya di bawah bayang-bayangnya.”Dion memutus sambungan tel

  • Genap 100 kali   Bab 9

    Dion sedikit linglung, barang-barang ini disiapkan untuk siapa?Tentu saja disiapkan untuk anak kita yang lucu.Tapi, bagaimana nasib anak itu sekarang?Ternyata ayahnya sendirilah yang menyakitinya sampai dia tidak bisa bertahan hidup.Dulu Dion mengabaikan semua panggilan telepon dariku, mungkin ini termasuk hukuman untuknya dari anak itu.Dion jatuh terduduk di tepi kasur, dia tidak mampu menenangkan diri untuk waktu yang sangat lama.Aku sudah memutus hubungan apa pun dengannya, Erin juga bukan orang yang baik.Bisa dibilang ini memang balasan yang pantas untuknya.Kata-kata menusuk dari Erin sebelum pergi kini terdengar seperti sebuah karma buruk.Namun, kehidupan sengsara milik Erin sejak dulu itu, siapa tahu memang akibat yang harus dia tanggung lebih awal untuk kejahatan yang akan dia lakukan di masa depan.Erin telah berkali-kali menipunya menggunakan alasan penyakit kronis, tapi anehnya Dion selalu percaya.Penyakit kronis mungkin memang bisa membuat orang kehilangan pemikira

  • Genap 100 kali   Bab 8

    Suara si dokter berubah menjadi lebih tegas.“Nona, kamu membuang-buang sumber daya medis. Kalau kamu tetap seperti ini, aku akan menghubungi keluargamu.”Dion tidak bisa menahan diri lagi, dia segera membuka pintu kamar pasien tersebut.“Tidak perlu.”Suara itu agaknya seperti petir yang menyambar Erin.“Dion, kenapa kamu datang?”Kedatangan Dion sangat mengejutkan Erin sampai matanya terbelalak.“Bukannya kamu bilang kamu menderita penyakit kronis? Dokter, sebenarnya apa yang terjadi?”Tatapan dokter itu pada Dion sangat serius.“Apa dia tunangan Anda? Meski saya tidak tahu alasannya, tapi kondisi tubuhnya sangat sehat.”Dokter itu masih terlihat agak kesal, bahkan sebelum keluar dari kamar pasien, dia berkata, “Segera urus administrasi keluar rumah sakit, jangan sampai memengaruhi perawatan pasien lain.”Dion tersentak mendengar perkataan dokter tersebut, keningnya berkerut menunjukkan ketidakpercayaan.“Erin, sebaiknya kamu memberiku penjelasan yang masuk akal!”Erin buka suara, bi

  • Genap 100 kali   Bab 7

    Kenangan itu terus membanjiri pikirannya tanpa ampun.Saat itu kelopak bunga poplar beterbangan di udara, aku batuk parah karena alergi, tapi demi bayi yang kukandung, aku tidak berani minum obat.Waktu mau ke rumah sakit, sebuah panggilan telepon menghentikan perjalanan, orang di seberang sana bilang hidupnya sudah di ambang kematian.Dion dihadapkan dua pilihan, dan dia memilih pergi menemui Erin sebagai pertemuan terakhir.Ada lagi, di kala embun salju menempel pada jendela, aku dan dia melihat pohon di depan jendela yang daunnya sedang berguguran satu per satu.Aku bilang mau mengumpulkan daun-daun gugur itu untuk dijadikan karya lukisan, yang nantinya akan dihadiahkan ke anak kita.Sayangnya, anak itu tidak sempat lahir ke dunia, dia tidak punya kesempatan menerima hadiah itu.Setiap kejadian tergambar jelas di benaknya, sebenarnya dia tahu betul semua penderitaan yang aku alami.Tapi jika mengingat semua itu sekarang, telepon Erin sudah datang bertubi-tubi untuk mengganggu, membu

  • Genap 100 kali   Bab 6

    Ketika Dion berpikir bahwa Erin menderita penyakit kronis, dalam hatinya secara alami muncul rasa iba.Erin bisa merasakan ada kekuatan yang perlahan menjauh darinya.Meski pandangannya gelap, dia yakin di sekelilingnya ada suatu perasaan yang mulai memudar.Erin membuka matanya, langit-langit yang sudah menguning itu seolah menatapnya dengan sembunyi-sembunyi.“Dion.”Untunglah, sepasang tangan itu tidak meninggalkannya begitu saja.Semua yang dia upayakan selama ini, sekarang malah membuatnya merasa bingung dan gelisah.Air mata mengucur dari mata Erin.“Dion, kalau tidak ada kamu, apa aku akan terlantar di jalanan?”Erin menggenggam erat tangan Dion.“Aku takut sekali, takut saat mataku terbuka, aku tidak bisa melihat kamu, takut aku harus sendirian menghadapi penyakit ini.”Permohonan Erin terdengar samar di telinga Dion saat itu.“Jangan tinggalkan aku ….”Erin diam sejenak, suaranya terdengar lemah.“Seperti yang terjadi sejak dulu, ya?”Tapi kali ini Erin tidak mendapatkan jawab

  • Genap 100 kali   Bab 5

    Hitam di atas putih itu bisu tapi menyampaikan segalanya.Itu adalah tulisan yang sangat mengerikan, menusuk penglihatan Dion seperti duri.Dion sempat kehilangan kendali sesaat, tanpa sadar mengambil beberapa langkah mundur.Beberapa waktu kemudian, tanpa peduli dengan tatapan orang, Dion mengeluarkan teriakan yang memilukan.Meskipun segala keputusan sudah tidak bisa diubah, dia tetap terseok dan menatapku dengan penuh kemarahan serta ketidakpercayaan.“Tidak masuk akan! Kita jelas sudah sepakat, kenapa kamu masih mengutuk anak kita seperti ini?”Aku tidak bereaksi, hanya menatap raut wajahnya yang terlihat lucu dan menyedihkan dengan pandangan jijik.Dia tidak peduli dengan keadaanku yang masih lemah, terus meluapkan amarahnya.“Kamu itu ibu, bagaimana bisa melakukan hal sekejam ini?”Saat itu, aku hanya tertawa sinis, tidak tahu harus bagaimana memperlakukan Dion.“Sudah keseratus kalinya, kebohongan yang sempurna akhirnya akan terbongkar, bukan?”Dion lebih memilih menaruh curiga

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status