Short
Genap 100 kali

Genap 100 kali

By:  GalaxyCompleted
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
10Chapters
2.1Kviews
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Setiap suamiku pergi menemani teman wanita masa kecilnya yang mengidap penyakit kronis, dia secara tidak langsung selalu bertanya dengan maksud apakah aku bersedia bercerai. Itu karena keinginan terakhir temannya tersebut adalah ingin menjadi seorang istri sebelum meninggal. Hari ini, lagi-lagi suamiku memberi isyarat semacam itu. Aku tidak menangis, tidak marah, yang keluar dari mulutku hanyalah nada tenang, menjawab dengan kata, “Baiklah.” Karena percakapan tentang hal ini sudah disinggung sebanyak 99 kali. Dan hari ini adalah yang ke-100 kalinya. Aku akhirnya juga menemukan alasan dan mendapatkan keyakinan untuk bercerai. Bayi kita ... sudah keguguran. Sekarang, dalam hubunganku dengan dia, hanya tersisa dua lembar tipis dari akta nikah.

View More

Chapter 1

Bab 1

Di hari ketujuh pasca keguguran, saat di pusat perbelanjaan aku bertemu Dion.

Dia membawa berbagai ukuran kantong belanja, saat melihat Erin tatapan matanya memancarkan kelembutan.

Tapi saat melihatku, hanya sekilas saja pun, dia langsung mengerutkan kening.

“Kamu kenapa di sini juga? Bukannya kita sudah sepakat untuk bercerai dulu? Apa jangan-jangan kamu menyesal?”

Dia menatapku penuh waspada, tatapan dinginnya menembus langsung ke dalam lubuk hatiku.

Erin melirik Dion dengan manja, kemudian dengan tidak enak hati menatapku.

“Kak Nana, jangan salah paham, Kak Dion hanya sangat ingin menikah denganku.”

Sambil berkata begitu, Erin sedikit melirik ke perutku, tersenyum penuh kemenangan.

“Pernikahan kami diadakan satu minggu lagi, aku akan menyambutmu dan bayimu untuk merayakan bersama.”

Tanpa sadar aku menyentuh perut bagian bawahku, belum sempat aku membuka mulut, Dion sudah menambahkan, “Dia kan sedang hamil, mana boleh menghadiri pernikahan? Kalau sampai membawa sial untukmu, bakal buruk.”

Tanganku yang tadi kuletakkan di atas perutku langsung kaku. Lagi-lagi aku dibuat tercengang oleh sikap dingin dan tidak berperasaan milik Dion.

Erin saja yang mengidap penyakit kronis, kamu tidak merasa itu kesialan.

Setiap hari keluar masuk rumah sakit, kamu tidak merasa itu kesialan.

Aku yang mengandung darah dagingmu, malah dianggap pembawa sial.

Sungguh ironis.

Tapi aku memang bukan Erin, mana pantas aku mendapat perhatianmu.

Kalau tidak, kamu tidak akan mengabaikanku tanpa mengunjungiku sama sekali, meski tahu aku sedang di rumah sakit, berjuang mempertahankan kehamilan.

Padahal jika kamu mau bertanya sekali saja, kamu akan tahu kalau anak kita sudah tiada.

Melihatku yang tidak mengucapkan apa-apa, Dion juga tidak peduli. Dia menundukkan kepala, sibuk berbicara tentang detail acara pernikahannya dengan Erin.

Aku menatap mereka tanpa berkata apa pun, di otakku melintas berbagai gambaran kenangan.

Sejak Erin didiagnosis punya penyakit yang parah, Dion langsung berubah seolah menjadi orang lain.

Dia juga tidak lagi peduli dengan anak kita, bahkan tidak lagi mau pulang ke rumah.

Tiba-tiba ketidakhadirannya menjadi hal yang sering terjadi.

Awalnya dia berkata, “Nana, Erin sakit parah, aku tidak mungkin tidak berada di sisinya.”

“Jangan khawatir, aku hanya kasihan padanya, tidak ada maksud lain.”

Kemudian dia berkata, “Nana, keinginan terbesar Erin sebelum meninggal adalah menikah denganku, aku tidak ingin hidupnya penuh penyesalan.”

Aku tahu maksud tersembunyi dari perkataannya, tapi aku tidak ingin memahaminya.

Maksud tersembunyi seperti itu sudah dia utarakan 99 kali.

Dan sebanyak itu pula aku mencari alasan untuk menolak.

Sampai pada yang ke-100 kali, perkataan Dion tidak lagi sebuah maksud tersembunyi.

Saat itu, hari di mana aku baru saja menerima suntikan ke-32 untuk mempertahankan kehamilan. Aku baru keluar dari rumah sakit ketika pesan dari Dion masuk.

Tanpa kepedulian, tanpa bujukan, hanya sebuah pemberitahuan yang dingin.

[Lusa, jam 9 pagi, ayo bertemu di kantor catatan sipil, kita bercerai.]

Hanya satu kalimat, 12 kata, seketika membuatku panik tak terkendali.

Hari itu, aku jatuh dan terbaring lemas di lantai tempat parkir, menelepon Dion berkali-kali.

Namun pada akhirnya, satu-satunya yang berhasil dihubungi hanyalah ambulans.

Kata dokter, anak itu tidak berhasil diselamatkan.

Aku berbaring di ranjang pasien, menunggu semalaman hingga pagi datang, tapi hanya mendapatkan satu kalimat darinya.
Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
10 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status