Emak yang sudah tua paniknya bukan main melihat Agus bengong. Bukan bengong biasa, tapi tatapan Agus yang pasti kelihatan layaknya orang yang siap membakar satu kota.Emak langsung menyambar tubuh Agus, memeluk erat sambil nangis heboh."Agus, maafin Emak, Nak. Emak ikhlas kalau kamu mau marah, mau benci, Emak terima semua. Maafin Emak yang nutupin semuanya selama ini, nggak pernah cerita apa-apa."Agus masih diam, otaknya sedang memproses film dokumenter hidupnya yang ternyata selama ini isinya scam semua. Emak semakin panik, suaranya mulai gemetar. "Agus, tolong ngomong sesuatu, Nak. Jangan diam saja, Emak jadi lemes nih." Emak tiba-tiba mau nyungsep ke kaki Agus, tapi dengan sigap Agus menahan bahunya."Mak, maaf apaan sih? Jangan sujud-sujud gitu, nggak pantes!" suara Agus akhirnya keluar, tetap tegas tapi lembut. "Sampai kapan pun, Agus tetap anak Emak. Anak Emak yang paling ganteng, yang paling besar."Agus sengaja Mereka berpelukan, Emak menangis sejadi-jadinya di bahu Ag
Read more