Pintu sudah terkunci rapat. Jendela tertutup hingga tidak ada celah udara yang masuk. Ruangan itu kini benar-benar sunyi, sebuah kesunyian yang terasa menekan gendang telinga.Elara berdiri mematung di tengah kamar. Napasnya masih terasa berat, sisa-sisa ketegangan dari pertemuan dengan Isabella belum juga hilang. Lehernya masih berdenyut kencang.Rasa panas itu tetap bertahan di sana, menjalar hingga ke belakang telinga. Elara tahu, Isabella tidak hanya mengancamnya. Wanita itu telah memicu sesuatu yang selama ini ia tekan habis-habisan."Sekarang," bisik Elara lirih.Ia menatap pantulannya di cermin tua. Bayangan di sana terlihat rapuh dengan mata yang membelalak cemas. Tidak ada lagi waktu untuk sekadar ragu atau bersembunyi."Aku harus bisa mengontrol ini," ucapnya lagi. Ia mengepalkan tangan, mencoba mencari pijakan mental di tengah badai yang mulai terbentuk di dalam dirinya.Elara menarik napas panjang. Pelan-pelan ia menutup mata, berusaha mengusir bayangan Joseph yang menunt
Last Updated : 2026-04-30 Read more