Vani berdiri mematung di ruang tengah, tangannya masih gemetar saat ia merapatkan kerah kaos turtleneck-nya. Kehadiran Nuri Vega di rumahnya bukan sekadar kunjungan, melainkan sebuah invasi. Nuri berjalan perlahan, jemarinya yang mengenakan cincin berlian besar mengusap permukaan meja kayu mahoni, seakan dirinya sedang memeriksa debu di barang miliknya sendiri."Vani Sayang... come on.. jangan menatapku seperti itu.""Kamu terlihat sangat menyedihkan dengan lingkaran hitam di bawah mata dan kaos tertutup itu," sindir Nuri tanpa menoleh.Vani menelan ludah, mencoba membasahi tenggorokannya yang kering. "Bagaimana kamu bisa masuk? Aku tidak ingat memberikan kunci cadangan padamu."Nuri berbalik, senyumnya tampak begitu tajam. "Sayang sekali, Vani. Di dunia bisnis, kunci bukan satu-satunya cara untuk masuk ke sebuah bangunan.""Ketika Adam Group mulai goyah, aku sudah membeli sebagian besar surat hutang atas properti ini." "Jadi, secara teknis, aku berdiri di atas tanahku sendiri."
最後更新 : 2026-04-21 閱讀更多