Viko menatap pecahan kaca di bawah kakinya dengan senyum sinis. Ia tidak menunjukkan rasa takut sedikit pun pada Malik yang menggenggam tongkat baseball, atau pada Vani yang gemetar karena amarah. "Kau berteriak di rumahku, Vani," ujar Viko dengan nada datar yang mengerikan. "Rumah ini, perusahaan Papahmu, bahkan isi brankas yang kau jaga itu... semuanya sudah atas namaku sekarang." Viko melangkah maju, sama sekali tidak mempedulikan ancaman Malik. "Kalian hanyalah tamu di istanaku sekarang. Jadi, Malik... jatuhkan mainan bodohmu itu sebelum aku menelepon polisi." Malik, yang merasa harga dirinya diinjak-injak oleh mantan tukang kebun itu, tidak lagi bisa menahan diri. Dengan teriakan liar, ia mengayunkan tongkatnya ke arah kepala Viko. Viko sempat menghindar, namun bahunya terkena hantaman keras yang membuatnya tersungkur. "Viko!" jerit Vani, namun suaranya bukan berisi kecemasan, melainkan sorak dendam. Viko mencoba bangkit, namun Malik kembali menerjangnya dengan pukul
最後更新 : 2026-04-30 閱讀更多