Angin sore di balkon lantai atas kafe privat itu terasa dingin, namun tak sedingin tatapan mata Nuri Vega. Viko melangkah mendekat setelah memastikan Tomi Candra aman di dalam gedung kementerian. Seragam sopirnya masih melekat, namun punggungnya tegak, tidak lagi membungkuk seperti pelayan. Nuri duduk dengan anggun, menyilangkan kaki sembari memegang segelas champagne yang berkilau. Begitu Viko sampai di hadapannya, wanita itu meletakkan gelasnya dan bertepuk tangan kecil, sebuah apresiasi yang terasa seperti ejekan. "Kau memang luar biasa, Viko," suara Nuri mengalun merdu, namun sarat akan bisa. "Aku tidak salah memungutmu dari tukang kebun yang terhina di rumah Adam, hingga kau bertransformasi menjadi seseorang yang ditakuti oleh mantan majikanmu. Ah, aku salah sebut... maksudku, papa mertuamu." Dada Viko bergetar. Kalimat itu menghantam bagian terdalam dari harga dirinya yang baru saja ia bangun kembali. Di dunia ini, tidak ada yang bisa menghentikannya secara psikol
最後更新 : 2026-05-12 閱讀更多