Sean menatap pintu rumah Riana, bertanya-tanya pada dirinya sendiri apa yang sedang ia lakukan di sini. Ia seharusnya memberi Riana ruang, tapi ia tidak tahan. Seolah-olah tidak bisa menjauh dari Riana. Ia tertarik pada Riana dengan cara yang tidak bisa di jelaskan.Sean mengetuk pintu, menunggu dengan tidak sabar sampai pintu dibuka. Semenit kemudian, pintu terbuka dan Bima muncul.“Papaaa!!” Seru Bima, melompat ke arah Sean dan Sean menangkapnya, “Aku kira harus menunggu sampai hari libur untuk bertemu dengan Papa.”Sean memeluk Bima dengan erat. Merasa tubuhnya rileks dan luluh, “Papa merindukanmu... Jadi Papa datang lebih awal.”Sean mengutuk dirinya. Bagaimana mungkin ia pernah membenci Riana? Riana memberinya hadiah terbaik, yaitu melahirkan Bima. Ia seharusnya menghargai Riana saat itu, bukannya menghukumnya. Malam yang ia pikir adalah malam terburuk dalam hidupnya, justru membawa hadiah terbaik yang bisa ia dapatkan.Sean tidak melihat Riana saat itu karena pikirannya terlalu
Read more