Ok-Ryeong tersentak hebat. Saat kulit jemarinya yang halus bersentuhan langsung dengan permukaan benda yang besar, keras, dan berurat itu, hatinya berdesir kencang layaknya badai yang menghantam pantai. Sensasi hangat yang menjalar dari telapak tangannya merambat cepat ke sekujur tubuh, memicu respons biologis yang tak lagi bisa ia bendung. Di bawah sana, sela-sela dirinya kembali membanjir, seolah sedang menyambut hawa panas yang terpancar kuat dari pria di depannya.Gleg....Ia kembali menelan ludahnya sendiri dengan susah payah. Matanya terbelalak seolah tak percaya pada penglihatannya sendiri; pemuda yang ia anggap polos, sopan, dan malang ini ternyata memiliki aset yang begitu luar biasa. Pikirannya sekilas membandingkan dengan milik muridnya dulu, Lee Jaewon, dan kenyataan pahit itu adalah: milik Jangsam jauh lebih menakjubkan—sebuah mahakarya maskulinitas yang belum pernah ia saksikan seumur hidupnya."Seperti ini kan...?" gumamnya lirih, nyaris
Dernière mise à jour : 2026-04-16 Read More