Satu minggu ternyata berlalu secepat kedipan mata.Di dalam ruang sunyi hatinya, Karin masih didekap duka yang pekat, terjebak di ambang labirin emosi antara nestapa dan bahagia yang semu.Sungguh sebuah ironi kehidupan, maminya sudah tiada, namun jika maminya masih adapun raga yang digerogoti stroke parah itu mustahil juga bisa hadir menyaksikan hari bahagianya.“Sampai pangling loh, Mbak,” bisik sang Make-Up Artist lembut, jemarinya yang lincah menepuk-nepuk kuas ke pipi Karin.Tanpa polesan pun, Karin sudah memikat, namun sapuan full make-up bernuansa glam-flawless pagi ini benar-benar menyulapnya bagaikan bidadari yang turun dari kayangan.Guratan tegas di matanya memancarkan keanggunan yang magis sekaligus rapuh, menegaskan alasan mengapa ia selalu menjadi pusat kekaguman banyak orang.Karin menatap pantulan dirinya di cermin besar berkilau, mencoba tersenyum tipis.“Makasih ya, Mbak. Tolong ... temani saya sampai masuk ke ballroom nanti.”“Pasti itu, Mbak,” jawab MUA tersebut de
Read more