LOGIN“Suamiku?”Karin menggoda Arlan sesampainya mereka di dalam kamar. Nada suaranya yang manja langsung disambut Arlan dengan senyuman hangat, sebelum jemarinya bergerak mencuil gemas ujung hidung Karin.“Istriku,” jawab Arlan teramat lembut.Tatapan mata Arlan terkunci pada wajah cantik di hadapannya. Pria itu benar-benar tergila-gila. Ada rasa lega sekaligus kepuasan yang membuncah di dadanya, mengingat segala perjuangan, rahasia, dan cara-cara nekat yang telah ia tempuh demi bisa mempersunting wanita ini.Namun, semua lelah itu menguap begitu saja. Mulai hari ini, Karin telah resmi menjadi miliknya seutuhnya.“Capek, Sayang?” tanya Arlan pelan.Telapak tangannya yang hangat mengusap lembut lengan Karin yang tampak memerah, bekas terkekang gaun pengantin super megah yang menyiksanya sejak pagi buta.Karin bahkan belum sempat membersihkan diri. Tubuhnya yang lelah langsung dijatuhkan ke atas ranjang, menarik Arlan ke dalam pelukan erat.Di kamar ini, dunia luar seolah lenyap, hanya ada
“Kenapa gak masuk?” tanya Diego, suaranya memecah keheningan di antara mereka setelah kaki mereka menapak di dalam kemewahan C’s Steak and Seafood Restaurant, salah satu restoran paling prestisius di Grand Hyatt Jakarta.Tanpa ragu, Diego memesan menu paling mewah dan mahal di sana, Filetto Alla Rossini premium, potongan wagyu tenderloin MB 9 yang meleleh di mulut dengan foie gras dan siraman saus truffle, bersanding dengan sebotol sampanye terbaik yang buihnya terus naik ke permukaan gelas kristal.Namun, kemewahan itu terasa hambar. Silvi tidak menjawab.Tatapannya kosong!Teralihkan oleh interior restoran yang megah dengan pilar-pilar tinggi dan pencahayaan temaram yang dramatis, seolah dinding-dinding mewah itu bisa menyembunyikan kerapuhan jiwanya.“Bertengkar dengan Karin?” Lirik Diego, tajam menembus manik mata Silvi yang lesu dan kehilangan binar.Biasanya, kedua wanita itu layaknya sepasang belahan jiwa yang tak terpisahkan sebagai sahabat.Namun hari ini, di hari paling pent
“Hadirin yang berbahagia, kini tiba saat yang kita nantikan. Pintu ballroom akan segera dibuka. Mari bersama kita sambut dengan kehangatan cinta dan tepuk tangan yang meriah … Mempelai Wanita kita yang begitu anggun, Karin Wijaya!”Suara MC menggema, begitu karismatik dan dipenuhi intonasi yang menyentuh hati, menuntun seluruh pandangan mata ke arah pintu besar ballroom yang perlahan terbuka.Di ambang pintu, Karin berdiri. Begitu anggun, dibalut gaun yang megah dengan riasan wajah yang pagi itu tampak begitu sempurna tanpa cela.Langkah kakinya begitu anggun dan berirama, seolah setiap ketukan sepatunya membawa melodi kebahagiaan.Di ujung karpet merah, Arlan sudah berdiri menanti. Senyumnya melebar penuh haru, namun bahunya mulai bergetar hebat. Air mata Arlan nyaris tumpah.Sungguh, untuk sampai di titik ini, mereka harus melewati badai perjuangan yang begitu berat.Pernikahan ini sunyi dari riuh keluarga besar. Tidak ada Kakek Billy, tidak ada Nenek Rosa. Bahkan Papi Rion memilih
Satu minggu ternyata berlalu secepat kedipan mata.Di dalam ruang sunyi hatinya, Karin masih didekap duka yang pekat, terjebak di ambang labirin emosi antara nestapa dan bahagia yang semu.Sungguh sebuah ironi kehidupan, maminya sudah tiada, namun jika maminya masih adapun raga yang digerogoti stroke parah itu mustahil juga bisa hadir menyaksikan hari bahagianya.“Sampai pangling loh, Mbak,” bisik sang Make-Up Artist lembut, jemarinya yang lincah menepuk-nepuk kuas ke pipi Karin.Tanpa polesan pun, Karin sudah memikat, namun sapuan full make-up bernuansa glam-flawless pagi ini benar-benar menyulapnya bagaikan bidadari yang turun dari kayangan.Guratan tegas di matanya memancarkan keanggunan yang magis sekaligus rapuh, menegaskan alasan mengapa ia selalu menjadi pusat kekaguman banyak orang.Karin menatap pantulan dirinya di cermin besar berkilau, mencoba tersenyum tipis.“Makasih ya, Mbak. Tolong ... temani saya sampai masuk ke ballroom nanti.”“Pasti itu, Mbak,” jawab MUA tersebut de
Setelah mengantar jenazah Mami siang tadi, Silvi sempat pamit kembali ke rumah sakit dan kini, meski jarum jam sudah menunjuk angka sembilan malam, wanita itu menampakkan batangnya hidungnya lagi dengan dalih ingin menemani Karin.Ruangan mendadak hening. Semua mata tertuju pada Silvi. Di sudut lain, wajah Sintia semakin menggelap. Kehadiran Silvi, selingkuhan baru Rion, telah merebut seluruh perhatian dan posisi Sintia di hati bosnya.“Karin, bagaimana? Sudah selesai semua prosesnya?” tanya Silvi tanpa canggung, seolah tak punya urat malu mendatangi rumah duka dalam situasi sensitif seperti ini.Karin tidak sudi menjawab.Matanya tetap tertuju pada berkas-berkas aset di depannya. Silvi akhirnya hanya berdiri mematung, mengamati pergerakan Karin.Namun, keheningan itu justru menyingkap tabir lain. Karin menangkap basah tatapan Papinya.Cara Rion memandang Silvi, senyuman tipis yang terukir di bibir pria tua itu ….Sangat berbeda!Silvi memang sengaja tidak membalas senyuman itu untuk
Malam itu terasa begitu pekat dan dingin. Baru beberapa jam yang lalu tanah makam Mami Kaina dipadatkan, namun atmosfer di ruang tengah kediaman utama sudah berubah drastis.Seluruh keluarga besar dari pihak Papi maupun Mami berkumpul.Saudara-saudara kandung Mami beserta anak-anak mereka, yang mayoritas datang dari luar kota, duduk memenuhi ruangan.Mami memang lahir dari keluarga terpandang, terhormat, dan bermartabat. Kehadiran kedua om dan tante Karin malam itu seolah menjadi benteng terakhir yang menjaga wibawa mendiang Mami.Di sudut ruangan, seorang pengacara dan notaris duduk dengan dokumen tebal di tangan mereka.Agenda malam ini sangat berat, pembacaan surat wasiat.Ketika lembar demi lembar dibacakan, semua orang tertegun. Warisan yang ditinggalkan Mami Kaina luar biasa banyak.Semua aset itu dibeli atas nama Mami, sebuah keputusan visioner, meskipun seluruh dananya bersumber dari dompet Papi Rion.“Selamat malam semuanya. Karena keluarga besar sudah berkumpul, saya akan me
“Makasih dokter,” jawab Karin dengan senyum yang dibuat-buat. Karin tidak tertarik sama sekali untuk ikut mandi dengan dr. Arlan meskipun sepertinya tubuh dr. Arlan atletis seperti yang Karin mau. “Aku pikir kita bisa mencobanya,” jawab Arlan dengan tawanya yang mengejek. Tidak lucu! Sungguh! K
Bodohnya, gumam Karin dalam hati. Ia tidak bisa memasak dan Karin juga tidak bisa menolak permintaan aneh Arlan untuk menjadi pembantu gratisnya hari ini. Di dalam mobil, Karin hanya diam terpaku menatap jalan yang sedikit lenggang. Arlan yang duduk di sampingnya juga tidak menyapanya atau bert
“Sentuh denyut nadimu sendiri. Rasakan dan catat ritme jantungmu setiap kali pikiranmu mengingat wajahku.”Efek psikologis dari "PR" Arlan mulai meracuni pikiran Karin. Saat morning report, Karin kehilangan fokus.Seperti biasa, Karin mengumpulkan laporan visit-nya sebelum pulang. Ada dr. Dimas di
“Ta-tapi, Dok?”Karin enggan melepaskan snelli yang digunakannya. Di balik jas itu ia memakai long tube, pakaian jenis kemben yang menggantung sedikit panjang. Karin suka pakaian seperti itu. Namun ia sadar, tidak mungkin melepaskan snelli miliknya saat berjaga.“Kenapa?” Arlan merasa tidak perlu a







