“Tentu, dengan senang hati,” jawab Laura cepat sambil mengeluarkan ponselnya.Setelah saling bertukar nomor telepon di koridor tersebut, Dimas mengantar Laura tepat ke depan ruang istirahat Koas.“Jadi, sehari-hari jadwal Dokter padat sekali, ya?” tanya Laura sambil berjalan beriringan di koridor rumah sakit, matanya berbinar antusias.Dimas tersenyum tipis, menyesuaikan langkah kakinya yang tegap dengan langkah Laura.“Bisa dibilang begitu. Sebagai spesialis obgyn yang fokus ke onkologi, hari-hari saya itu seperti pacuan eksklusif melawan waktu. Taruhannya nyawa.”“Wah ... kedengarannya berat banget,” ucap Laura, penuh kesan.“Memang, tapi di situ seninya,” suara Dimas terdengar berat namun entah mengapa terasa sangat menenangkan di telinga Laura.“Mulai dari menyelamatkan pasien dari keganasan kanker serviks, mengangkat kista ovarium yang posisinya rumit, sampai menangani miom atau tumor panggul. Di bawah lampu bedah, keputusan hidup dan mati sering kali harus saya ambil hanya dalam
Read more