Di parkiran depan klub, Wandra baru saja menghadapi sekelompok preman yang dipimpin oleh bos mereka. Dengan gerakan cepat dan presisi yang lahir dari latihan kultivasinya selama ribuan tahun, Wandra menghajar mereka satu per satu. Tinju-tinjunya mendarat tepat, mematahkan perlawanan, dan dalam hitungan menit, parkiran itu sunyi, hanya ditinggalkan tubuh-tubuh yang terkapar. Aura kemenangan membara di dadanya saat ia melangkah masuk ke klub, darah di tangannya sudah dibersihkan sekilas, tapi semangatnya tak tergoyahkan. Suara musik bass yang menggelegar menyambutnya, lampu neon berkedip-kedip di kegelapan, dan aroma campuran parfum mahal serta asap rokok memenuhi udara. Wandra berjalan dengan langkah tegas, bahunya lebar dan otot-ototnya menegang di bawah kemeja ketat. Ia merasa percaya diri, dominan, seperti pria yang baru saja merebut kendali dari kegelapan. Matanya menyapu ruangan, tapi sebelum ia mencapai bar, seorang wanita mendekatinya. Hana, penanggung jawab klub malam ini,
Read more