登入Aura yang meledak dari tubuhnya sangat berbeda dari yang sebelumnya. Kalau aura alam kebangkitan level dua belas tadi terasa seperti badai, maka aura alam inti emas terasa seperti alam semesta yang mengembang. Tekanannya tidak lagi menekan secara fisik, tapi menekan secara esensial, menekan jiwa, menekan kesadaran, menekan keberadaan itu sendiri.Lantai di bawah kaki Kakek Tua retak dan ambles. Dinding-dinding ruangan yang sudah retak kini runtuh sepenuhnya. Langit-langit terbelah. Seluruh lantai tiga gedung itu mulai runtuh ke bawah.Wandra merasakan tekanan itu. Dan untuk pertama kalinya sejak dia keluar dari guanya, dia merasakan sesuatu yang mendekati tantangan.'Alam inti emas level satu,' batin Wandra. 'Ini memang jauh lebih kuat dari alam kebangkitan. Kualitas energinya berbeda secara fundamental.'Kakek Tua tidak membuang waktu. Begitu auranya terlepas sepenuhnya, dia menyerang dengan seluruh kekuatan alam inti emas level satu. Pukulannya tidak lagi membawa energi biasa. Pukul
Ketua berhenti sejenak untuk menarik napas yang menyakitkan. "Dan satu hal lagi yang harus kau ketahui. Paviliun Pembunuh bukan hanya ada di negara Kertagama. Kami memiliki cabang di negara Singaraja dan negara Baladewa. Cabang-cabang itu jauh lebih kuat dari kami. Kalau kau berani membunuh kami, para petinggi dari cabang Singaraja dan Baladewa akan datang mengejarmu. Dan kultivator mereka jauh lebih kuat dari siapa pun di negara ini."Wandra mendengarkan semua ancaman itu tanpa mengubah ekspresinya. Kemudian dia bersandar di kursinya dan berkata dengan nada yang sangat santai, "Panggil Kakek Tua kalian. Sekarang."Ketiga petinggi itu terdiam. Mereka tidak menyangka Wandra akan merespons ancaman mereka dengan permintaan untuk menghadirkan ancaman itu secara langsung."Apa kau gila?" ketua bergumam. "Kau mau kami memanggil Kakek Tua ke sini? Dia akan membunuhmu!""Aku yang memutuskan siapa yang membunuh siapa," Wandra berkata. "Sekarang panggil dia. Atau aku akan mematahkan sisa tulang
Wandra melangkah masuk ke dalam ruangan rapat dengan langkah yang tenang. Matanya menyapu seluruh ruangan, membaca setiap detail, setiap posisi, setiap potensi ancaman.Ketua Paviliun Pembunuh yang pertama kali bereaksi. Dia mengangkat tangannya dan menekan sebuah tombol tersembunyi di bawah meja. Alarm diam menyebar ke seluruh gedung, dan dalam hitungan detik, pintu-pintu di sepanjang lorong terbuka. Belasan orang berpakaian hitam berlari menuju ruang rapat dari berbagai arah.Wandra bahkan tidak menoleh. Dia berdiri memunggungi pintu saat para petugas keamanan tingkat tinggi itu menyerbu masuk. Mereka semua adalah kultivator, tingkatnya bervariasi dari alam kondensasi roh sampai alam jiwa baru lahir.Satu gerakan tangan Wandra.Hanya satu.Gelombang energi menyebar dari tubuhnya ke segala arah. Setiap orang yang berdiri di lorong dan di ambang pintu langsung terlempar ke belakang. Tubuh-tubuh mereka menghantam dinding dan lantai dengan suara berdebum yang beruntun. Tulang-tulang pat
Wandra tidak berkata apa pun. Dia tidak memberikan ancaman. Dia tidak memberikan peringatan. Dia bergerak.Gosal yang sudah bersiap untuk pertarungan bahkan tidak sempat memasang kuda-kuda. Wandra sudah berada di depannya sebelum otaknya sempat memproses bahwa Wandra sudah bergerak. Pukulan pertama menghantam dada Gosal dengan kekuatan yang membuat pria sebesar itu terlempar ke belakang dan membentur pagar.Gosal mencoba bangkit tapi Wandra sudah berada di atasnya. Pukulan kedua menghancurkan bahu kanannya. Pukulan ketiga menghancurkan bahu kirinya. Gosal berteriak kesakitan dan berusaha menendang Wandra, tapi Wandra menangkap kakinya dan mematahkannya.Wandra tidak memberi Gosal waktu untuk bernapas. Tidak memberi waktu untuk memohon. Tidak memberi waktu untuk apa pun. Pukulan demi pukulan mendarat di tubuh Gosal dengan kecepatan dan kekuatan yang membuat kultivator alam kebangkitan level lima itu merasakan setiap tulang di tubuhnya patah satu per satu.Detik-detik terakhir Gosal dih
Wandra merapikan bajunya yang sedikit kusut dan melanjutkan perjalanan ke kampus. Dia masuk ke gerbang kampus tepat waktu untuk kuliah pagi.Hari itu berjalan seperti biasa di kampus. Wandra mengikuti kuliah dengan penuh konsentrasi, duduk di barisan depan seperti biasa. Setelah kuliah reguler selesai, dia bergabung dengan Ardo, Wita, dan Jono di ruang latihan tim untuk pemantapan terakhir sebelum kontes Olimpiade antar universitas yang akan diadakan besok.Clarissa sudah menunggu mereka dengan materi-materi pemantapan yang sudah disiapkannya. Wajahnya menunjukkan campuran antara antusiasme dan kecemasan yang wajar menjelang kompetisi besar."Baiklah, tim," Clarissa berkata sambil membuka presentasinya. "Besok adalah hari besar kita. Kita akan berhadapan dengan universitas-universitas yang jauh lebih bergengsi dari kampus kita. Tapi aku percaya, dengan persiapan yang sudah kita lakukan, kita punya kesempatan yang nyata."Clarissa menoleh ke Wandra. "Wandra, kamu akan menjadi tumpuan u
Pagi ini, Wandra keluar dari rumah kosnya dan mulai berjalan kaki menuju kampus seperti biasa. Matahari baru saja terbit dan udara masih sejuk. Jalanan masih cukup sepi dengan hanya beberapa kendaraan yang lewat.Wandra baru berjalan sekitar seratus meter dari rumahnya ketika telinganya menangkap suara motor yang melaju dari belakang dengan kecepatan yang tidak wajar. Bukan kecepatan orang yang sedang terburu-buru ke kantor. Tapi kecepatan orang yang sedang mengejar mangsa.Tanpa menoleh, Wandra merasakan aura pembunuh dari pengendara motor itu. Dan detik berikutnya, suara tembakan pistol memecah keheningan pagi.Peluru itu melesat ke arah kepala Wandra dari jarak sekitar sepuluh meter. Tapi Wandra hanya sedikit menggerakkan jarinya, dan peluru itu berbalik arah dengan kecepatan yang dilipatgandakan. Peluru itu menembus helm sang penembak dan bersarang di kepalanya. Motor yang ditungganginya oleng ke kiri dan menghantam pohon di pinggir jalan dengan suara benturan yang keras.Beberapa
Tiga hari telah berlalu sejak insiden di kamar jenazah rumah sakit. Tiga hari yang terasa sangat panjang bagi Wandra.Caroline dengan tegas melarangnya keluar rumah, apalagi ke rumah sakit. "Terlalu berbahaya," katanya. "Rumor tentangmu sudah menyebar. Keluarga Hartono mencari-carimu. Bahkan Pak Ha
Sementara itu, di warteg, Wandra sudah menghabiskan sarapannya. Ia merasa sedikit lebih baik setelah perut terisi. Ia membayar makanannya dan berterima kasih pada ibu pemilik warung."Sama-sama, mas. Lain kali mampir lagi ya," kata ibu itu dengan ramah.Wandra tersenyum dan mengangguk. Ia keluar da
Perawat senior yang tadi sangat yakin gadis itu sudah mati kini menatapnya dengan tidak percaya. Ia melangkah maju dengan hati-hati, seolah mendekati hantu, lalu dengan tangan gemetar ia meraba leher gadis itu.Ada denyut nadi. Jelas dan kuat."Astaga..." bisiknya. "Ini... ini tidak mungkin... Ini
Begitu jari-jari Wandra menyentuh liontin, sensasi yang sudah ia kenal kembali muncul. Liontin itu menjadi hangat—tidak, bukan hangat, tapi panas. Sangat panas hingga hampir membakar kulitnya.Wandra tersentak, hampir melepaskan liontin itu, tapi tangannya seolah tidak bisa lepas. Ia merasakan alir







