Dayat terdiam sejenak. Tatapannya pada dokumen berstempel hukum di tangannya perlahan memudar, berganti dengan pandangan dingin yang menusuk lurus ke manik mata Bu Clara. Wanita matang di hadapannya itu mungkin berpikir bahwa harta, kekuasaan, dan tubuh indahnya bisa membeli segala keputusan Dayat. Namun, Dayat bukan pria yang bisa didekte atau dipaksa mengorbankan darah dagingnya sendiri. Dayat melempar amplop cokelat tebal itu secara kasual ke atas kasur, lalu menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan dominasi. Tangan kekarnya bergerak cepat, mencengkeram dagu mulus Bu Clara dengan kuat hingga wanita itu terperanjat, menatap Dayat dengan napas tertahan. "Saya tolak syarat itu, Bu Clara," ujar Dayat dengan suara berat, dalam, dan tanpa ragu sedikit pun. Bu Clara membelalak kaget, matanya menyipit penuh rasa tak percaya. "Kamu gila, Dayat?! Itu setengah saham utama resort VVIP! Nilainya belasan miliar! Kamu cuma perlu memastikan Astrid nggak melahirkan anak itu!" Dayat terkekeh
Read more