Dayat menerima tas kain berisi kotak bekal itu dengan senyuman lebar. Ia menarik tubuh Gita lembut ke dalam pelukannya, memberikan kecupan hangat di kening cewek itu sebagai tanda terima kasih sekaligus permohonan maaf karena tidak bisa sarapan bersama."Mas berangkat ya, Git. Jangan cemberut lagi dong, nanti cantiknya hilang," goda Dayat sambil mencolek dagu Gita.Gita akhirnya tidak bisa menahan senyumnya, meski ia tetap memukul pelan dada Dayat. "Iya, Mas. Hati-hati di jalan, jangan ngebut."Setelah memastikan semua barang bawaannya tidak ada yang tertinggal, Dayat melangkah keluar rumah menuju mobilnya yang terparkir di garasi. Namun, baru saja ia membuka pintu kemudi dan bersiap untuk masuk, langkahnya terhenti saat mendengar suara Gita memanggil dari ambang pintu rumah."Mas Dayat! Bentar!" seru Gita setengah berteriak.Dayat menoleh, menopang tangannya di atas pintu mobil. "Kenapa, Git? Ada yang ketinggalan?"Gita berjalan mendekat beberapa langkah, memastikan suaranya terdenga
Read more