“Hati-hati gimana?”Mendengar ucapan itu Dayat sempat terdiam, ia tahu betul sedikit kesalahan yang ia lakukan nanti atau hal yang membuat Istri dari Bos-nya tidak suka dapat memutus langsung jalur rezekinya.Dayat terkekeh sinis. "Lo tenang deh. Iman gue kuat. Tadi aja di rumah Mbak Niken, gue hampir dapet 'bonus' tapi gue tolak.""Halah, palingan lo cuma gemeteran doang. Udah, cepetan ke sana! Blok F, nomor 12. Rumahnya paling gede, pager kayu jati. Jangan telat!"Dayat memasukkan ponselnya kembali. "Hati-hati ya, kayaknya bakal lebih gawat dari Mbak Niken nih," gumam batin Dayat.Kalimat Luki soal "mahasiswa teknik" tadi sedikit membangkitkan harga dirinya, namun juga beban. Ia memutar gas lebih dalam. Lima menit kemudian, ia sampai di depan rumah yang dimaksud. Benar kata Luki, rumah ini terlihat seperti benteng modern yang elegan. Mewah, sunyi, namun terasa mencekam.Ia menekan bel gerbang. Tak lama, gerbang otomatis itu bergeser perlahan dengan suara mesin yang sangat halus—jen
Last Updated : 2026-04-09 Read more