“Dari mana, Na?”“Jalan sama Calvin, Ma. Tadi pas makan juga ketemu Kak Vino.”Cecilia mengerutkan dahinya, “Sama Calvin atau Victor?”“Calvin, Ma.”“Mama lihat sekarang kamu dekat sama dia ya.”Anna terkekeh, “Kami hanya berteman.”“Yakin hanya berteman? Pipi kamu sampe merah gini loh.” Cecilia tersenyum menggoda sambil mencubit pipi sang putri.“Ouch sakit, Ma.” Anna memonyongkan bibirnya sambil mengelus pipinya.“Lalu gimana Victor? Kalian putus?”Anna menghela nafas panjang dan kemudian menghempaskan diri di sofa, “Ya engga, Ma.”“Terus?”Anna menggidikkan bahunya, “Anna nggak tau, Ma.” Ucap gadis itu dengan tampang memelas.Cecilia tersenyum dan menyingkirkan anak-anak rambut Anna di dahinya ke belakang telinga sang putri, “Kok nggak tau, gimana sih Nak?”“Victor berubah Ma sejak kembalinya Sherly, Anna nggak dianggap lagi.”“Kamu sudah pernah membicarakannya?”Anna menggeleng, “Belum, Ma. Victor seperti menghindar dari Anna.”Cecilia menghela nafas,” Kalian harus membicarakannya
Read more