Ciuman panjang dan dalam di atas meja bar tadi akhirnya mereda. Kael perlahan melepaskan tautan bibir mereka, menatap Vio yang terkulai lemas di dalam dekapannya dengan napas naik turun yang berantakan.Vio menyandarkan kepalanya di dada bidang Kael, mendengarkan detak jantung suaminya yang bergemuruh kencang. Pikiran polosnya yang tadi dipenuhi pertanyaan tentang orang tua, perlahan memudar, tergantikan oleh rasa hangat dan cinta murni yang selalu ditawarkan Kael.“Maafkan aku ya, Suamiku,” bisik Vio lirih, jemari kecilnya meremas kemeja putih yang dikenakannya. “Aku tidak akan bertanya yang aneh-aneh lagi. Aku tidak ingin membuat suamiku sedih.”Mendengar bisikan itu, dada Kael serasa dihantam rasa bersalah yang luar biasa. Namun, rasa posesifnya dengan cepat meredam penyesalan itu. Kael mengecup puncak kepala Vio dengan amat lama, mengusap punggung halus istrinya penuh kasih sayang.“Kamu tidak salah, Sayang. Tidak perlu minta maaf,” balas Kael lembut, suaranya kembali tenang me
Read more