Kapal cepat itu kembali bersandar di dermaga sunyi Jakarta Utara dengan kondisi mengenaskan. Lambung kapal dipenuhi baretan akibat hantaman ombak, dan rintik hujan yang kian menderu seolah ikut meratapi kegagalan Kael.Kael melangkah turun dengan tubuh yang basah kuyup. Langkahnya tak lagi limbung oleh alkohol, melainkan berat oleh rasa frustrasi yang teramat dalam. Bahu kirinya yang terserempet peluru telah dibalut perban seadanya oleh Bagas di dalam kabin tadi, tetapi rembesan darah segar masih tampak samar mengotori kain kemejanya yang basah.“Pak Kael, kita harus ke rumah sakit sekarang. Luka di bahu dan tangan Anda bisa infeksi,” protes Bagas dengan raut wajah penuh kecemasan saat mereka berjalan menuju mobil.“Tidak ada rumah sakit, Bagas,” sahut Kael, suaranya terdengar serak, dingin, dan seakan tak menghiraukan segala rasa sakit fisik dari tubuhnya. “Siapkan mobil. Kita ke Bogor, sekarang.”Bagas tersentak. Mendengar kata 'Bogor', dia langsung tahu tempat mana yang dimaksud
続きを読む