Setelah mandi dan berganti pakaian dengan kaus yang lebih bersih, Vio duduk di tepi ranjangnya. Kepala wanita itu masih terasa agak pening, tetapi rasa tidak tenang di dadanya jauh lebih mendominasi. Di atas meja belajar, ponselnya yang sejak tadi bergetar tanpa henti kembali menyala, menampilkan nama Gisella di layarnya.Vio menatap layar gawai itu dengan pandangan ragu. Ucapan Kael serta foto-foto semalam masih terbayang jelas di benaknya. Vio membiarkan panggilan pertama itu mati begitu saja, lalu menghela napas panjang. Namun, tidak sampai satu menit berlalu, ponselnya kembali bergetar hebat. Panggilan kedua, ketiga, hingga keempat terus masuk berturut-turut.Rasa malas dan bimbang sempat menahan tangan Vio. Tetapi, rasa penasaran serta keinginan untuk mendengar penjelasan langsung membuat Vio akhirnya meraih ponsel tersebut. Dia menggeser tombol hijau, lalu menempelkan gawai itu di telinganya.“Halo, Vio?”Suara Gisella langsung terdengar dari seberang sana, nadanya terdengar
閱讀更多