Mendengar pertanyaan Alistair yang sarat akan tuntutan mutlak itu, Liora tidak langsung mundur. Alih-alih gemetar ketakutan di bawah tatapan sang penguasa Utara, ia justru melangkah maju tiga tindak.Liora melipat kedua tangan di depan dada, mengangkat dagunya tinggi-tinggi menantang kilat abu-abu di mata suaminya."Sebelum aku menjawab pertanyaanmu, jawab dulu pertanyaanku, Alistair. Rencana gila apa yang sebenarnya sedang kau susun untukku sampai kau nekat menyiapkan seluruh logistik ini, memobilisasi pasukan, dan mengajakku pergi berlibur hanya berdua saja ke ujung semenanjung?"Alistair menggerakkan rahangnya, otot-otot di sekitar leher tegapnya menegang kaku mendengarkan nada sinis istrinya. "Aku sudah mengatakannya semalam, Liora. Kita pergi untuk—""Untuk apa? Untuk melenyapkanku secara perlahan tanpa ada satu pun saksi mata?" potong Liora, suaranya meninggi satu oktav, memotong kalimat sang Duke dengan sentakan aksi yang berani.Liora maju lagi satu langkah, untuk memangkas ja
Baca selengkapnya