Liora menatap Emma dengan tatapan tidak percaya, merasa dikhianati oleh tawa sahabatnya sendiri di saat dunianya sedang berada di ambang kehancuran. Matanya yang memerah berkilat kecewa, tangannya yang semula mencengkeram lengan Emma kini terhempas lemas ke sisi tubuhnya."Kau menertawakanku, Emma?" tanya Liora, suaranya bergetar rendah, menahan badai emosi yang siap meledak di antara barisan buku-buku kuno. "Di saat aku sedang ketakutan setengah mati menghadapi ancaman batalyon pasukannya, kau malah menganggap ini sebagai lelucon?!"Emma, sambil menyeka sudut matanya yang berair karena geli, segera menaruh sisa tumpukan buku ke atas meja sortir dengan ketukan pelan. Ia kemudian menarik napas panjang untuk meredakan sisa tawa renyahnya, lalu melangkah mendekat demi memangkas jarak di antara mereka."Oh, Liora, dengarkan aku dulu," ujar Emma, tangannya bergerak cekatan merapikan kembali beberapa helai rambut Liora yang berantakan akibat angin musim dingin."Tindakan impulsif Alistair y
Mehr lesen