"Kenapa aku harus takut menyebut namanya?" Liora membalas dengan tawa getir, tidak memedulikan tatapan membunuh yang dilemparkan suaminya."Apakah nama kekasih agungmu itu terlalu suci untuk diucapkan oleh wanita kasta rendah sepertiku, Alistair?""Tutup mulutmu, Liora!" Alistair menegakkan tubuhnya, auranya mendominasi seluruh ruangan yang mendadak terasa mencekik. "Jangan mengalihkan fakta bahwa kau menyelinap keluar kastil tanpa pengawal dan menemui sahabatmu di kota!""Menemuinya?" Liora menghela napas kasar, menyandarkan punggungnya pada kursi kayu yang terasa keras. Ia memutuskan untuk tidak lagi berbelit-belit dengan rasa takut yang selama empat tahun ini mengurung jiwanya.Tatapannya menajam, lurus mengunci sepasang manik abu-abu pria di hadapannya. "Dengar, Alistair. Aku tidak peduli lagi pada kecurigaan gila atau apa pun itu.""Kau sedang menantang kesabaranku, Duchess," desis Alistair, suaranya merendah, sebuah tanda bahwa badai amarahnya telah mencapai batas tertinggi."Ak
Read more