Di dalam kabin kereta kencana yang berguncang hebat membelah badai salju, Liora meledak mendengar tuduhan keji yang meluncur dari bibir Alistair.Rasa sakit, penindasan, dan makian yang ia telan bulat-bulat selama empat tahun ini menjelma menjadi kekuatan raksasa yang mendobrak paksa katup kesabarannya.Tubuhnya yang terkurung di sudut kursi kulit tidak lagi menyusut ketakutan; ia justru menegakkan punggung, menentang gelombang intimidasi fisik dari pria di hadapannya.Dengan satu gerakan aksi yang cepat dan nekat, Liora mengangkat tangan kanannya, menepis cengkeraman Alistair pada sandaran kursi lalu menunjuk tepat di depan wajah suaminya."Jaga bicaramu, Duke Alistair von Drachen!" teriak Liora, suaranya melengking tinggi, bergetar hebat di antara derit dinding kereta yang bergoyang liar."Jangan berani-beraninya kau mengotori sisa harga diriku dengan tuduhan menjijikkan seperti itu! Aku tidak pernah mengkhianati janji altar kita, tidak seperti dirimu!"Alistair menyipitkan mata abu
อ่านเพิ่มเติม