Duchess Sophia terbelalak. Kipas sutra di genggamannya bergetar pelan, bukan lagi karena amarah, melainkan karena keterkejutan yang amat sangat atas kelantangan menantunya.Kamar besar itu mendadak hening, hanya menyisakan deru napas Sophia yang memburu. Sepanjang empat tahun ini, ia hanya mengenal Liora sebagai sosok yang menunduk, menerima setiap makian dengan air mata yang tertahan, dan membiarkan harga dirinya diinjak-injak demi kelangsungan hidup keluarganya.Namun wanita yang berdiri di hadapannya sekarang terasa seperti orang asing yang mengenakan kulit Liora, dingin, tak tersentuh, dan berbahaya."Kau... kau benar-benar tidak punya urat malu, Liora," desis Sophia, mencoba mengembalikan wibawa aristokratnya yang sempat runtuh.Ia menegakkan lehernya, mencoba memandang rendah Liora dari balik dagunya yang terangkat, meski getaran di jemarinya tidak bisa sepenuhnya ia sembunyikan. "Kau menantangku?"Liora tidak mundur satu senti pun. Ia justru menarik napas dalam-dalam, menatap i
Baca selengkapnya