Liora melepaskan cengkeramannya dari kantong rami. Dengan gerakan lambat yang sarat akan beban batin, ia mendorong kantong-kantong buah apel tersebut hingga berpindah sepenuhnya ke sisi meja milik Maxime.Ia menarik napas dalam-dalam, membiarkan udara pasar yang bercampur uap batu bara memenuhi dadanya, mencoba mengumpulkan sisa-sisa ketegasan yang ia miliki."Ambil apelmu, Jenderal, lalu pergilah," ucap Liora. Suaranya tidak lagi bergetar, berganti menjadi sebuah garis datar yang dingin.Maxime mengernyitkan dahi, tangannya masih tertahan di atas meja kayu. "Kau belum menjawab undanganku, Liora. Kedai di pinggir danau itu—""Aku menolaknya, Maxime," potong Liora cepat, menatap langsung ke dalam manik mata elang sang Jenderal. "Dengan segala hormat dan rasa terima kasihku atas kebaikan hatimu, aku tidak bisa menerima undangan makan malam itu. Aku minta maaf."Maxime terdiam sejenak, mengamati raut pias di wajah Liora yang mengeras. "Kenapa? Apakah karena tiran di Kastil Blackwood itu
Read more