Annasya masih duduk di ruang tamu, memandangi masakannya yang sudah matang namun tidak disantap. Pikirannya terlalu kacau untuk beraktivitas hari itu.Dia butuh seseorang untuk diajak bicara. Bukan Raka, bukan Aldo, bukan orang yang terlibat langsung dalam pusaran ini. Seseorang yang netral, yang bisa mendengarkan tanpa menghakimi, yang tidak punya kepentingan apa pun atas jawaban yang akan dia berikan dua minggu lagi.Annasya membuka ponselnya. Jari telunjuknya bergerak di atas daftar kontak, berhenti pada satu nama yang sudah lama tidak dia hubungi.Jeeha.Sepupunya. Anak dari kakak ibunya. Mereka tumbuh bersama di kampung halaman, bermain di sawah, mandi di sungai, berbagi cerita tentang cita-cita.Dulu mereka sangat dekat, tapi setelah Annasya menikah dengan Aldo dan pindah ke kota, komunikasi mereka merenggang.“Lama tidak bertemu,” bisik Annasya. “Mungkin ini saatnya bertemu dia.”Dia menekan tombol pangg
Terakhir Diperbarui : 2026-05-11 Baca selengkapnya