“Yuna … udah siap buat saya masuk?” Doni bertanya pelan. “Y-Yuna sudah licin, Kak?” Doni tidak menjawab. Dia menghampiri bibir Yuna, melumatnya dengan gerakan lembut penuh hati-hati. Semakin lama, ciumannya dalam, menuntut, dan penuh penjelajahan sehingga Yuna tak sanggup mengejar. Yuna melenguh panjang di sela pagutan mereka, kedua tangannya meremas bahu kokoh Doni yang polos tanpa pakaian, sementara kakinya yang mulus secara naluriah melingkar lebih erat di pinggang Doni. Setelah beberapa saat, Doni mengurai tautan bibir mereka. Dia melihat raut wajah Yuna yang berkeringat, sayu, dan mulutnya sedikit terbuka karena hendak menarik napas sepuasnya. Melihat Yuna yang nampak cukup meyakinkan kalau gadis itu sudah ‘siap’, Doni melepas sangkar keperkasaannya. Membuat tubuh atletisnya kini tak lagi berbalut sehelai benang pun. Yuna terdiam. Matanya menatap Doni lekat, tatapannya lembut, penuh pendambaan. Gadis itu menarik napas panjang yang gemetar, wajahnya kini dipenuhi b
Last Updated : 2026-05-11 Read more