Langkah kaki Laura terasa sangat berat, seolah setiap jengkal tanah yang ia pijak berusaha menahan pergerakannya. Namun, begitu sorot matanya menangkap gundukan tanah yang masih tampak baru itu, pertahanannya habis seketika. Cairan bening mulai membanjiri pipinya, mengalir deras tanpa mampu ia bendung lagi. Satu minggu tertahan di rumah sakit terasa seperti siksaan abadi yang menjauhkannya dari sang putri. Rencana awal yang hanya mengharuskan ia berdiam diri selama tiga hari terpaksa meleset jauh karena kondisi fisiknya yang menolak segala jenis obat yang masuk ke pembuluh darahnya. Kini, beban itu terasa tumpah sepenuhnya saat tubuhnya jatuh bersimpuh di samping pusara kecil tersebut."Sayang, maaf Mama baru datang. Mama kangen banget sama kamu, Nak," ucap Laura di sela isak tangis yang menyesakkan kerongkongan.Suaranya parau, nyaris hilang tertelan oleh rasa perih yang teramat dalam. Ia mengusap permukaan tanah itu dengan jemari yang gemetar, seakan sedang membelai pipi lembut ana
Last Updated : 2026-05-14 Read more