Share

Tiga Kali Lipat

Author: Atieckha
last update publish date: 2026-05-16 13:58:25

Taksi yang membawa Laura akhirnya berhenti di pelataran sebuah hotel di pinggir kota. Setelah menyelesaikan pembayaran, ia turun sambil menyeret koper besarnya sendiri tanpa meminta bantuan petugas yang berjaga di lobi. Proses pendaftaran kamar berjalan cepat. Begitu kunci elektronik berada di tangan, Laura segera menuju kamar yang terletak di lantai tiga. Di dalam ruangan yang asing itu, ia meletakkan kopernya di sudut dekat lemari, lalu duduk sejenak di tepi tempat tidur untuk mengatur napasn
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Penyesalan Suami Posesif   Minta Jatah

    Kebahagiaan yang dinantikan Laura dan William akhirnya benar-benar nyata, bahkan jauh lebih indah dari yang pernah mereka bayangkan. Rumah besar yang dulunya terasa sepi, sekarang mendadak penuh dengan suara tangis berisik yang justru terdengar seperti melodi paling merdu di telinga mereka. Kini usia si kembar sudah menginjak bulan kedua. Pipi mereka mulai berisi membuat Grandma dan Grandpa-nya memilih menetap di New York karena tak bisa berjauhan dengan si kembar.Menjadi orang tua baru buat Leonardo dan Leonora ternyata membawa corak baru yang luar biasa dalam hidup pasangan ini. Mereka seperti tidak ingin kehilangan satu detik pun untuk melewatkan tumbuh kembang sepasang malaikat kecil yang menggemaskan itu.Walaupun William sudah menyiapkan dua orang pengasuh bayi yang siap sedia setiap saat, Laura sama sekali tidak mau menjadi ibu yang tinggal terima beres. Menurut Laura, pelukan dan aroma tubuh ibu kandung adalah hal yang paling berharga untuk anak-anaknya. Laura tetap memandika

  • Penyesalan Suami Posesif   Merayu

    “Aku minta maaf sama kamu, benar-benar minta maaf atas kesalahanku,” ucap Paula lagi dengan suara yang tersendek-sendek di antara napasnya yang terasa berat.Laura mengusap lelehan air mata yang terus-menerus membasahi wajah sahabatnya itu. Padahal, di saat yang bersamaan, air matanya sendiri seolah menolak untuk berhenti mengalir, mengucur deras melintasi pipinya dan membasahi wajah cantiknya yang kini kelihatan begitu pias. Kesedihan yang teramat mendalam begitu jelas tergambar dari sepasang matanya yang sembap.Paula lantas menolehkan kepalanya, mengarahkan pandangan matanya ke ambang pintu. Di sana, William masih berdiri, seolah tidak akan membiarkan istrinya sendirian di sana. Pria itu hanya terus menatap lurus ke arah dua wanita yang kini memilih jalan untuk saling menghapus dendam dan memaafkan satu sama lain.“Pak William, tolong maafkan saya. Saya minta ampun sudah lancang masuk ke dalam rumah tangga Anda dan nyaris menghancurkannya. Saya benar-benar salah,” ujar wanita itu d

  • Penyesalan Suami Posesif   Tangisan Penyesalan

    “Sayang, aku mau minta izin buat ketemu sama Paula,” ucap Laura meminta izin pada sang suami.William mengurai pelukannya lantas bertanya, “Buat apa sih, sayang, ketemu sama dia lagi? Udah deh, anggap nggak kenal lagi sama dia.”William menatap lekat wajah istrinya, ada gurat kecemasan yang mendalam di matanya. Pria itu hanya takut istrinya kenapa-napa jika nekat untuk tetap bertemu dengan Paula—wanita yang nyaris menghancurkan kehidupan mereka, mengoyak kedamaian yang baru saja mereka bangun kembali, dan hampir merenggut segalanya dari hidup mereka. “Aku kan sahabatnya, sayang. Aku pengen ketemu aja sama dia, pengen ngobrol. Siapa tahu dia bisa bertobat,” ujar Laura dengan suara yang melembut, mencoba mengikis ketegangan yang mendadak menyeruak di antara mereka.Namun, William menggeleng. Amarah dan rasa trauma menguasai dirinya tentang Paula. “Tapi sayang, mungkin saja sekarang dia jauh lebih membenci kamu dari sebelumnya. Aku menjebloskannya ke penjara, sementara hubungan kita sud

  • Penyesalan Suami Posesif   Seperti Aurora

    “Loh,” Brian menganga melihat Leonora. Dia sampai mengucek matanya berulang kali memastikan kalau bayi yang baru lahir ini bukan Aurora. “I–ini gak mungkin,” ucapnya. Tangannya gemetar saat merengkuh tubuh mungil Leonora dan mengabaikan tangisan histeris bayi itu.Jessica merengkuh tubuh Leonardo, “ini juga mirip banget sama Aurora,” bisiknya.William yang sudah selesai menghangatkan ASI dua botol langsung menyerahkan pada pengantin baru itu. “Nih, kasih minum anakku. Hati-hati, awas saja sampai lecet,” omelnya dengan wajah jutek. Brian dan William masih belum baikkan karena Brian masih belum memaafkan William seperti Laura. Sesekali dia masih dongkol pada sahabatnya itu, bahkan beberapa kali ke rumah sang sahabat, Brian hanya menganggap ada Laura.Brian berdecak karena lamunannya terganggu sama Omelan William. Dia dan Jessica lantas duduk di sofa sambil memangku bayi kembar itu dan memberinya ASI. “Laura, aku nyaris tak percaya bisa melihat Auroraku lagi,” ucap Brian.Laura terseny

  • Penyesalan Suami Posesif   Penyesalan Seumur Hidupku

    Kabar bahwa Laura melahirkan anak kembar langsung tersebar luas bagai angin dalam sekejap. Di New York, nama William punya daya pengaruh yang luar biasa besar, bahkan jauh melebihi pamor artis papan atas mana pun. Tak heran jika berita bahagia tentang lahirnya penerus keluarga Harrington ini langsung memicu kehebohan di mana-mana. Nama Leonardo Elias Harrington dan Leonora Eliana Harrington sudah memenuhi pemberitaan hari itu.Sejak siang hari, gerbang kediaman mereka tidak pernah sepi. Petugas kurir datang silih berganti membawa ratusan karangan bunga berukuran raksasa dari para relasi bisnis dan kerabat dekat. Halaman depan rumah yang luas itu mendadak berubah menjadi lautan mawar dan lili, dipenuhi kartu-kartu ucapan selamat atas lahirnya sepasang bayi kembar yang sudah lama dinantikan.Sementara di luar sana publik ikut berpesta merayakan kabar ini, suasana di dalam ruang perawatan rumah sakit justru terasa begitu teduh dan tenang. Laura masih terbaring lemah, mencoba mengumpulkan

  • Penyesalan Suami Posesif   Baby Twin's

    “Mama suruh masuk. Aku mau ditemani Mama juga,” lirih Laura menahan sakit perutnya. Air matanya terus menganak sungai membuat William makin panik. “Kalau ibu mau operasi sesar masih memungkinkan kok, Bu,” dokter memberi pilihan pada Laura.“Nggak, dok. Saya mau lahir normal,” jawab Laura. “Baik,” jawab dokter. Kembali mempersiapkan persalinan karena bukaan Laura tinggal satu lagi sebelum nanti proses persalinan itu berlangsung. Soraya masuk ke dalam dengan mata sembab ikut mendampingi Laura melahirkan. Wanita paruh baya itu langsung mengecup kening menantunya memberikan doa terbaik untuk Laura dan calon cucunya. Mereka tak peduli jenis kelamin cucunya nanti yang penting lahir sehat ibu dan anak sehat tanpa kekurangan satu apapun. “Ma, sakit banget, Ma,” rintihnya.“Cuma sebentar kok, sayang,” jawab Soraya menenangkan sang menantu.William terus komat Kamit, karena dia lebih gugup dari Laura. Demi apapun jantungnya kayak mau berhenti berdetak. Terlebih wajah istrinya sudah pucat. “

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status