"Marlina! Berhenti di situ!" teriak Edward, suaranya membelah kesunyian malam di area belakang rumah sakit. Namun, langkah kaki mereka tak terdengar lagi. Edward berlari sekuat tenaga, melewati pepohonan rindang dan semak-semak yang tajam, napasnya memburu, paru-parunya terasa terbakar. Ia terus berlari menuju titik di mana bayangan tadi menghilang, namun ia hanya menemukan jalan buntu yang gelap dan sunyi. Tidak ada siapa pun. Hanya embusan angin malam yang dingin menyapu wajahnya yang penuh keringat dan kemarahan. Sebenarnya, hanya beberapa meter dari tempat Edward berdiri, di balik deretan mobil-mobil tua yang terparkir di area bongkar muat rumah sakit, Marlina sedang berdiri kaku. Pria di hadapannya, seorang pria dengan setelan jas abu-abu yang tampak sangat tenang, tidak lain adalah Aris, tangan kanan ayahnya yang paling lihai dalam urusan intelijen. "Kau terlihat pucat, Nona. Lukamu... apakah sudah cukup pulih untuk melarikan diri dari pengawasan Mahesa?" Aris bertanya dengan
Leer más